Sunat tak kurangi kenikmatan seks


Buat sebagian pria, sunat atau khitan mungkin bukan menjadi pilihan. Dalam pikiran mereka, sunat adalah tindakan yang tak penting dilakukan dan berakibat mengurangi kenyamanan serta kemampuan berhubungan seksual. 

Tetapi faktanya, sunat justru tidak mempengaruhi tingkat kepuasan seksual, tetapi bahkan menguntungkan buat kesehatan. Penelitian terbaru menunjukkan, sunat pada pria terbukti tidak mengurangi kepuasan dalam berhubungan seksual. Dengan fakta ini pula, sunat patut direkomendasikan sebagai salah satu langkah dalam mengatasi penyebaran HIV dan AIDS.

Seperti diberitakan BBC, Minggu (6/1), para ahli dari AS melakukan riset terhadap sekitar 5.000 pria di Uganda. Setengah dari ribuan partisipan ini telah disunat, sedangkan setengah lagi belum melakukannya. Dari riset terungkap, hanya sedikit saja perbedaan di antara dua kelompok partisipan ini saat mereka ditanya rata-rata kemampuan dan kepuasan seksual.
"Riset kami dengan jelas menunjukan bahwa disunat tidak akan menimbulkan efek buruk apapun pada pria yang menjalaninya ketika kami membandingkannya dengan pria yang belum menjalani operasi sunat. Studi lain juga menunjukkan, menyadarkan pria bahwa prosedur sunat takkan mempengaruhi kepuasan atau kemampuan seksual membuat mereka mau disunat," ungkap pimpinan riset, Professor Ronald Gray dari Johns Hopkins University di AS.

Meski studi menunjukkan hanya sedikit perbedaan rata-rata kepuasan seks antara kedua kelompok, peneliti menilai angkanya tidak terlalu signifikan secara klinis. Sekitar 98.4% pria yang disuna dilaporkan puas dengan kehidupan seksualnya, sedangkan kelompok non-sunat tercatat  99.9% .
Dalam hal kemampuan penetrasi, 98.6% pria yang disunat dilaporkan tak menemui masalah, sedangkan kelompok non-sunat mencapai 99.4 persen. Tetapi secara garis besar, 99.4% pria yang disunat dilaporkan tak menemui keluhan saat berhubungan. Pada pria yang tak disunat prosentasenya mencapai 98.8% .
Beberapa riset lain menunjukkan bahwa sunat juga dapat menekan angka infeksi HIV pada pria hingga 50%. Ada beberapa alasan mengapa sunat bisa melindungi dari virus mematikan tersebut. Dalam kulup kelamin pria terdapat sel-sel spesifik yang sangat rentan terhadap infeksi HIV. Tetapi setelah disunat, kulit di bawah kulup menjadi kurang sensitif dan tak lagi rentan pendarahan sehingga secara otomatis menekan risiko infeksi.
Meski sunat menguntungkan buat kesehatan, faktanya tidaklah mudah menganjurkan pria menjalani sunat. Beberapa pria cenderung enggan melakukannya karena khawatir berpengaruh pada kehidupan seksnya. Beberapa riset sebelumnya tentang sunat dan kepuasan seksual memang hasilnya bervariasi. Tetapi peneliti mengatakan bahwa lingkup penelitian dan profil demografi partisipan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh.
Peneliti, yang mempublikasikan temuannya dalam jurnal BJU International, juga berpendapat kampanye pentingnya sunat melawan HIV bisa saja menjadi tidak efektif.  "Ada kekhawatiran bahwa pria yang sudah disunat merasa dirinya terjaga dari HIV, padahal sebenarnya tidak. Kondom tetap menjadi cara terbaik untuk mencegah HIV saat hubungan seksual. Harus dicatat bahwa riset tentang hubungan HIV dan sunat berada pada lingkup sangat terbatas. Kami perlu riset lanjutan mengenai metoda pencegahan baru melalui sunat, microbisida hingga vaksin," ungkap Deborah Jack,chief executive  National Aids Trust.
Sumber: Kompas

Salon Khusus Pria

Alm. Raden Ngabehi Notopandoyo pendiri Bong Supit BOGEM. Awal bulan lalu saya berkesempatan mengantarkan keponokan khitan. Bagi anda yang dulu juga di mutilasi khitan di Bogem mungkin masih sempat yang merasakan eksekusi khitan oleh pak Noto sendiri, tapi kini beliau sudah tiada maka eksekutornya beralih ketangan para karyawan atau pun keluarganya. Saya sendiri dulu tidak sempat mencicipi tajamnya alat khitan yang di BOGEM (bukan berarti saya mau ngicipi khitan yang kedua kali, hehehehe…)

Sebelum dieksekusi, terlebih dulu melakukan pendaftaran. Jangan takut tersesat karena disana sudah tersedia papan petunjuknya,

Apa yang perlu dibawa waktu eksekusi? Yang jelas adalah anak yang mau disunat jangan sampai ketuker sama bapaknya. Kemudian sarung, dipakai waktu eksekusi dan sesudahnya. Persiapan yang lain adalah kain mori nah yang ini saya kurang tau untuk apa. Ada yang tau? Jika anda lupa tidak membawa semuanya (kecuali anak yang mau disunat lho ya) sudah ada yang menyediakan tetapi harus merogoh kocek anda pribadi. Dan yang terakhir jangan lupa melakukan pembayaran tunai karena disana tidak menerima pembayaran secara elektronik apalagi sistem KREDIT. Harganya variatif, kelas ekonomi Rp. 400.000,- (harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan) bedanya dimana si? Bedanya cuma di kasurnya aja kok, mau yang single bedroom atau double, untuk cara eksekusi tenang saja tidak perlu takut karena tidak ada perbedaan proses eksekusi berdasarkan kelas kamar.

Bagi anda yang ingin mencoba lagi ketajaman peralatan sunat di Bogem tentu saja bagi putra, saudara atau tetangga karena saya yakin bagi kaum lelaki cukup sekali saja karena memang menyakitkan(kalau ke enakan biasanya minta tambah/di ulang lagi) berikut alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi, silahkan dicatat sendiri-sendiri, bagi yang tidak bawa alat tulis bisa pinjam teman sebangkunya.

Bagiamana, tertarik untuk mencoba? Sesampai di rumah, jangan kaget kalau ada yang memberikan ucapan “Selamaat menempuh hidup bentuk baru” karena memang ini terjadi pada keponakan saya *ya jelas aja, yang ngasi ucapan yang nulis tulisan ini*

Sumber: Annots

WHO Merekomendasikan Khitan

World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan rekomendasi untuk dilakukannya khitan pada laki-laki yang salah satu keuntungannya adalah mengurangi resiko tertularnya laki-laki yang dikhitan terkena PMS atau penyakit menular seksual

Untuk ketangan lebih lanjut saya tampilkan sebagian dari surat edaran rekomendasi WHO tentang khitanan, saya beri garis bawah point penting yang menerangkan rekomendasi WHO tentang khitan/circumsisi.

Recommendations :

1.1 Male circumcision should now be recognized as an efficacious intervention for HIV prevention.

1.2 Promoting male circumcision should be recognized as an additional, important strategy for the prevention of heterosexually acquired HIV infection in men

Rekomendasi ini merupakan salah satu bukti keistimewaan dari dilakukannya khitanan, banyak para ahli kesehatan di barat sana yang mempertanyakan apa keuntungan dilakukannya khitanan, dengan adanya rekomendasi ini bisa menjawab keraguan mereka, apalagi dalam surat rekomendasi ini juga dijelaskan tentang penilitian yang mereka lakukan terhadap orang yang di khitan.

Tapi walaupun demikian, meski dalam rekomendasi ini dijelaskan bahwa di khitan itu bisa menurunkan tingkat tertularnya laki-laki dari penyakit HIV hingga 60%, tetap saja tidak bisa melindungi hingga 100% karena 40% nya itu mungkin sebagai peringatan kepada kita untuk berfikir ulang bila ingin melakukan seks diluar nikah apalagi dengan berganti-ganti pasangan.

Subhanallah, ternyata kenapa Nabi Muhammad memerintahkan kepada kita umat muslim laki-laki untuk berkhitan itu memang sangat berguna bagi kita. Wallahu’alam bisshawab.

Sumber: Pusat Khitan dan Bedah Minor

Khitan di Masa Dewasa

Saya pria berusia 20 tahun. Belum dikhitan. Rencananya sih, dalam waktu dekat ini. Saya ingin bertanya dok, kata orag, melakukan khitan pada usia saya ini konon akan membuat perdarahan susah berhenti. Benarkah? Metode sunat saat ini kan bermacam-macam, kira-kira metode apa yang paling tepat? Saat penyembuhan bagaimana cara mandi yang tepat supaya luka khitan tidak terguyur air? Boy, Surabaya

Jawab:

Khitan dapt digolongkan sebagai operasi kecil. Artinya tingkat kesulitan dan resikonya relatif mudah diatasi. Risiko perdarahan saat khitan bisa saja terjadi. Jika terjadi perdarahan, maka penghentian perdarahan nisa dilakukan dengan membuntu pembuluh darah yang teriris/terpotong. Di antaranya, pengikatan pembuluh darah atau dengan dibakar listrik (electrocaunter).

Penghentian perdarahan dengan cara tersebut lazimnya cukup efektif dan sukses. Untuk orang yang lebih dewasa, pembuluh darah di penis memang relatif lebih lebar. Tetapi tak harus menjadikan kekhawatiran karena masalah perdarahan.

Perdarahan bisa menjadi masalah jika pria yang disunat memiliki gangguan sistem pembekuan darah. Untuk memastikan tak memiliki gangguan fungsi darah, bisa dilakukan tes laboratorium uji pembekuan darah. Jika hasil tes menunjukkan fungsi pembekuan darah tak ada masalah, maka tak usah takut terjadi perdarahan yang sulit dihentikan.

Sunat saat dewasa juga tak ada hubungan dengan kulit khatan yang sulit dipotong (jawa:khotot). Yang perlu disiapkan justru pencukuran rambut kemaluan. Selain karena rambut kemaluan sudah lebat, rambut yang ada akan mengganggu proses sterilisasi sebelum pemotongan kulit khatan.

Di antara banyak cara khitan, cara konvensional merupakan cara lama yang masih terbaik. Yakni dengan pemotongan biasa pakai pisau bedah steril dan penghentian fokus perdarahan yang ada, kemudian menjahit untuk mempertemukan antar ujung kulit.

Yang penting adalah pengalaman dan kecermatan petugas yang mengkhitan. Cara sterilisasi yang prima sangat menentukan penyembuhan. Apalagi jika kondisi kesehatan sangat baik.

Perawatan setelah khitan tidak harus istimewa sampai tidak boleh kena air. Biasanya di kasa verban pembalut luka akan lengket karena sisa darah yang mengering. Tak jarang, jika penjahitan cermat, maka verban tidak lengket dan luka cepat sembuh

Untuk Boy yang berumur 20 tahun, mestinya tak ada masalah yang harus dikhawatirkan pada khitan. Pada usia tersebut, tingkat kekebalan tubuh sangat prima. Teknologi kedokteran saat ini sudah berkembang sangat maju, bahkan pembuluh darah yang terpotong pun sudah bisa disambung dengan baik. Kalau hanya khitan, tak ada masalah yang terlalu dikhawatirkan.

Secara medis, khitan akan memudahkan menjaga kebersihan organ kelamin, khususnya pada bagian leher penis yang tertutup kulit khatan. Untuk yang kulit khatannya panjang dan tertutup sehingga menjadi penyebab sering infeksi saluran kencing, maka khitan merupakan solusi efektif.

Sumber: Dr dr Hudi Winarso MKes

Sunatan

Wah ternyata ngurusin anak yg baru disunat itu lumayan repot jg lho…hi…hi…

Pas liburan musim panas yg lalu kita sekeluarga plg ke Jakarta.Sebelumnya aku n Mas Deddy punya rencana mau nyunatin Gio,mumpung sekalian liburan plg ke Jakarta,tp yah itu jg kalo anaknya mau.Ternyata waktu kita tanya,eh dia mau,ya udah dech akhirnya kita mulai mencari info seputar persunatan…weeddeehh istilahnya…

Kata para senior yg udah berpengalaman dlm menyunatkan anak lebih baik ke dokter spesialis bedah anak aja,pake laser lebih aman katanya dan si anak bisa dibius lokal atau kalo mau dibius total sekalian supaya gak ngerasain sakit selama proses.Trus sakitnya jg cuma 3 hari trus dah bisa pake celana.Wah hebat jg ya 3 hari dah sembuh,pikir kita.

Eh trus ada yg blg kalo pake laser nanti kalo anaknya dah gede bentuk "ntunya" gak bagus,waduh…bisa berabe dong…hi…hi…hi…jd ktnya mending secara yg biasa aja alias secara pake gunting dan dijahit,adoooh…ngilu bo…

Wah bingung jg nich mau dilaser atau yg biasa aja,eh ditengah kebingungan kita datang lg satu saran dr my sister in law,dia blg ada lg satu cara yg bisa dipertimbangkan oleh kita,dussss…tambah bingung …cara apa lagi nich,ternyata ktnya ada sunat yg namanya SUNAT BOGEM,nah lho…sunat gaya apa nich?

Dulu sunat bogem ini hanya ada di kota Jogyakarta,jd sunat ini kira2 prakteknya secara tradisional,cara sunatnya bagaimana aku jg gak paham.Nah skrg ternyata sudah ada cabangnya di Jakarta,wah apa sich hebatnya sunat bogem ini?

Denger ceritanya setelah disunat ala bogem si anak lsg bisa pake celana,wah hebat betul.Nah akhirnya krn kita mau yg instan alias yg cepet sembuhnya pilihan kita jatuh kpd sunat bogem.Krn kita pikir biar Gio cepet sembuhnya dan kita bisa menikmati liburan di Jakarta.So kita buat appointment by phone dan tgl 16 Juni 2006 lepas Maghrib Gio jadi disunat.Kita gak boleh nemenin si anak di dalam,wah saat itu emosiku sbg ibu gak karuan dech,mau nangis malu,jantungku deg2an terus,wah kacaulah perasaanku ngebayangin my little boy lg dijagal ihik…ihik…aku baca2 doa aja,but not so long…setelah 10 menit-an akhirnya Gio keluar dr kmr operasi dg wajah ceria tanpa menangis atau takut.Wah hebat banget dan prosesnya itu lho cepet banget.Alhamdulilah akhirnya anakku dah disunat dg selamat.Sebenarnya Gio udah boleh pake celana tp krn kitanya yg gak tega yah akhirnya pake sarung aja dech.Trus kita pulang ke rumah dan sebelumnya kita mampir ke apotik utk beli perlengkapan dan obat utk merawat luka setelah sunat.Malam itu Gio bisa tidur nyenyak tanpa kesakitan krn sebelumnya udah dikasih obat anti sakit dan antibiotik.Besok paginya Gio bangun dan blm bisa mandi krn perbannya takut basah,jd cuma diseka aja,trus dah bisa pake celana.

Wah biasanya habis sunatan kan dipestain ya,tp kita pikir gak perlulah pesta2,kita cuma ngumpul keluarga besar aja,baca doa,mengucapkan puji syukur atas segala rahmatNya sehingga Gio bisa disunat dg selamat trus potong nasi tumpeng… eh Gio jg pingin tiup lilin kyk ulang tahun,ya udah diturutin dech.

Hari ke-3 perban hrs diganti,nah mulailah kerewelan terjadi.Setelah perban dibuka Gio baru ngerasa sakit dan dia kaget "ntunya"kok berubah,dia blg,"Bunda…kok ti….tnya Gio putus."…ha…ha…ada2 aja,yah akhirnya setelah dikasih penjelasan si Ayah dia br ngerti.Wah emang wajar sich kalo dia kesakitan wong bengkak gitu.Kena air dia teriak,kesenggol handuk jerit2 sambil nangis,dikasih obat trus diperban sambil nangis kenceng,waduh stress nich si Bunda.Trus dia gak mau pake celana lg,maunya telanjang aja biar gak sakit ktnya.Ya udah dia tiduran aja di kamar gak keluar2,sekali2 aja kalo dah bosen dia keluar tp minta dipakein sarung,hi…hi…udah punya rasa malu.Tapi tiap saat dia teriak manggil aku,yg minta inilah itulah atau kadang yg cuma pingin ditemeninlah,duh…sementara si Kyla jg yg gak mau aku tinggal bentar,ribet benerrrrrr…

Yah semenjak hari ke-3 itu dan hari2 berikutnya aku bener2 dibuat repot sm anak2,terlebih Gio yg emang lg butuh perhatian extra.Hari2ku di Jakarta kmrn dimulai dg mandiin dan gantiin perban lukanya Gio dg jeritan dan tangisan.Sepanjang hari denger rengekan dia yg mengeluh sakit,belum lg kalo dia mau pipis repot bgt,yg takut kesenggol-lah,takut kena pipis sakit-lah,wah…trus dia apa2 maunya sm Bunda,gak mau kalo dibantuin Ayahnya,ampun dech…

Ha…ha…ha… ternyata sunat mau pake cara apa juga tetep aja gak bisa sembuh hanya dlm bbrp hari.Tetep aja penyembuhannya harus lebih dr seminggu.

Skrg Gio dah sembuh total,wah dia bangga bgt cerita ke orang2 kalo dia udah berani disunat.Hi…hi…mas Gio udah gede…

Sumber: Deasyky

Medikalisasi Khitan pada Bayi Perempuan

Bila terjadi kontroversi seputar sirkumsisi pada anak/bayi laki-laki, nampaknya semua mudah sepakat tentang sunat pada bayi perempuan. Pada beberapa komunitas, dilakukan praktek sunat perempuan yang diserupakan dengan sirkumsisi pada laki-laki. Karena klitoris merupakan “kembaran” penis, maka kulit di sekitar klitoris juga harus dibuang, seperti membuang preputium. Bahkan ada yang sampai memotong klitorisnya itu sendiri.

WHO mencatat ada 4 tipe female genital mutilation. Tindakan “memotong kulit di sekitar klitoris” (yang sejenis dengan preputium pada penis) merupakan tipe paling ringan. Sulit dibayangkan bagaimana kondisi dari tipe-tipe yang lebih berat.

Tindakan ini tidak dikenal sama sekali dalam dunia medis. Pemotongan atau pengirisan kulit sekitar klitoris apalagi klitorisnya sangat merugikan. Tidak ada indikasi medis untuk mendasarinya. Seorang bidan di Jawa Barat pernah mengulas tentang hal ini karena menemukan bekas-bekasnya pada pasiennya. Kenyataannya memang ada kelompok yang meyakini bahwa anak perempuan pun diwajibkan menjalani khitan. Dan praktek tersebut dilakukan juga, bahkan di pusat-pusat pelayanan kesehatan.

Sekitar 1 tahun lalu, Kementrian Pemberdayaan Wanita mengeluarkan seruan untuk menghentikan medikalisasi sunat perempuan. Namun, saya memandang seruan ini harus dikaji secara komprehensif.

Praktek sunat pada perempuan (SP) sudah ada sejak jaman sebelum masehi. Penelitian anthropologi mendapatkan praktek tersebut pada mummi mesir yang justru ditemukan pada kalangan kaya dan berkuasa, bukan oleh rakyat jelata. Ahli antropologi menduga pada jaman kuno sunat untuk mencegah masuknya roh jahat melalui vagina.

Survei epidemiologi WHO menemukan beberapa alasan melakukan SP seperti identitas kesukuan, tahapan menuju wanita dewasa, pra-syarat sebelum menikah juga pemahaman seperti klitoris merupakan organ kotor, mengeluarkan sekret berbau, mencegah kesuburan atau menimbulkan impotensi bagi pasangannya. Banyak hal medis terkait dengan alasan FGM ini kemudian terbukti salah.

Sebagai dokter saya mendapati praktek SP bukan monopoli mereka yang “terbelakang”. Saat ini tidak sedikit keluarga muda, sarjana, bekerja dan hidup di perkotaan, justru bersemangat melakukannya terhadap anaknya, bahkan meski mereka sendiri di masa kecilnya tidak mengalaminya. Semangat menjalankan agama nampaknya berpengaruh dalam hal ini.

Menurut berita tersebut, medikalisasi harus dilarang meskipun filosofinya adalah mengurangi risiko kesehatan daripada dilakukan oleh bukan tenaga medis. Langkah ini dianggap berbahaya karena menggunakan peralatan seperti pisau, jarum dan gunting.

Memang, sekilas gambaran medikalisasi SP menakutkan karena penggunaan-penggunaan alat-alat seperti itu. Tetapi yang saya ketahui dan pernah baca di media, yang dilakukan adalah membuat perlukaan kecil pada daerah klitoris. Bahkan, banyak yang hanya mempraktekkan “sunat psikologis” dimana sekedar ditoreh sedikit dengan ujung jarum, keluar setetes darah, dan orang tua pasien sudah puas. Bahkan kadang, seperti yang juga saya lakukan selama bekerja di klinik Ibu-Anak dulu, hanya di”sandiwara”kan dengan meneteskan cairan antiseptik sewarna darah, yang sekaligus diteruskan dengan pembersihan daerah sekitar klitoris.

Perlu disadari, dalam hal ini kita berhadapan dengan orang tua yang merasa memiliki kewajiban untuk melakukan tindakan tersebut terhadap anaknya. Ketika ini sudah berkaitan dengan soal keyakinan agama, maka persoalannya tidak lagi sederhana, yang berujung pada perilaku kesehatan. Rasanya kita semua mengerti bahwa menghadapi masalah perilaku, tidak sekedar soal larang-melarang.

Yang menarik, sebenarnya tuntunan agama dalam hal ini pun menyebutkan “Sentuh sedikit saja dan jangan berlebihan, karena hal itu penyeri wajah dan bagian kenikmatan suami“. Bukankah berarti menjadi cocok dengan pilihan para petugas medis yang hanya “menorehkan” sedikit luka tersebut? Dan bukankah berarti praktek yang sampai beberapa tipe tersebut sebenarnya tidak dilandasi pemahaman agama yang tepat?

Soal kesehatan reproduksi wanita ditonjolkan oleh kelompok “penentang” SP, tetapi bagaimana dengan makin maraknya body-piercing bahkan terhadap alat kelamin di kalangan wanita? Kalau soal hak menentukan pilihan sendiri yang berikutnya ditonjolkan, bukankah sunat perempuan pun merupakan pilihan sendiri sesuai keyakinannya? Bagaimana juga kalau dipertanyakan kewajiban negara untuk melindungi kebebasan warganya menjalankan keyakinan agamanya sebagai bagian dari hak asasi manusia?

WHO sendiri memang juga berpendapat tidak boleh ada praktek FGM oleh tenaga kesehatan. Tetapi European Journal of Obstetrics and Gynecology bulan Oktober 2004 lalu menganalisa bahwa usaha terbaik untuk mengatasi praktek sunat perempuan harus berupa pendekatan yang non-direktif, sesuai dengan kultur lokal dan dari banyak sisi (multi-factes).

Wujudnya berfokus pada peranan kelompok masyarakat itu sendiri dalam mensikapi praktek FGM, dengan muaranya adalah munculnya keputusan mandiri, bukan atas program dari luar.

Pengalaman di beberapa negara, pendekatan legal-formal secara direktif justru menimbulkan resistensi. Bisa dibayangkan kalau tenaga medis benar-benar dilarang “melayani” sunat perempuan, bukankah justru membuka lebih lebar peluang praktek secara “tradisional”.

Pengalaman di Kenya menunjukkan, justru melalui medikalisasi secara perlahan bisa dicapai pemahaman masyarakat yang lebih proporsional soal SP. Sebagian masyarakat memang tetap menganggapnya sebagai kewajiban, tetapi kepedulian terhadap risiko kesehatan membuat mereka lebih berhati-hati. Wujudnya dengan memilih tipe FGM yang berisiko minimal (tipe paling ringan atau sekedar sunat-psikologis), bahkan masih ditambah meminta injeksi anti-tetanus sebagai tindakan pencegahan.

Penggunaan jarum, pisau atau gunting oleh tenaga medis disamping prosedur tindakan yang memenuhi prinsip aseptik dan anti-septik, tidak bisa dibantah akan meminimalkan risiko kesehatan. Bukankah ini juga yang dikehendaki bersama?

Yang harus diatur, menurut penulis, justru tidak boleh ada praktek sunat perempuan bukan oleh tenaga yang tersertifikasi. Selanjutnya kepada tenaga medis diterbitkan aturan standar praktek sunat perempuan, dengan mengacu pada risiko minimal. Bukankah alasan ini pula yang mendasari sikap Depkes soal pengaturan tindakan aborsi?

Lebih jauh lagi, para tenaga medis bisa memberikan banyak penjelasan soal kesehatan reproduksi, terutama bagi wanita. Para orang tua lebih bisa menerima penjelasan ini, karena tenaga medis tidak harus menunjukkan “resistensi” terhadap keinginan mereka memenuhi kewajiban sunat bagi anaknya. Pengalaman di beberapa negara, kondisi positif seperti ini justru tidak bisa diperoleh kalau pelayanan sunat perempuan oleh tenaga medis di larang pemerintah. Bahkan tidak jarang usaha penyuluhan dianggap sebagai usaha merusak kebudayaan lokal.

Kita sebenarnya memiliki banyak pengalaman soal pendekatan yang culture-spesific misalnya mensikapi kebiasan footbinding (gedhong, bedhong) terhadap kaki bayi-bayi yang dulunya juga dilandasi soal “kemuliaan wanita”. Secara perlahan orang tua lebih proposional memandang kebiasaan tersebut dengan pemahaman yang tepat.

Sementara itu, pendekatan multi-facets harus melibatkan pihak-pihak seperti organisasi keagamaan, mengingat bagaimanapun itu alasan yang mendominasi praktek sunat perempuan di Indonesia, agar diperoleh kesamaan pandangan agama soal sunat perempuan. Kurikulum kesehatan reproduksi yang marak diusulkan juga wahana yang baik untuk mendidik pemahaman masyarakat.

Muara dari langkah tersebut, pada akhirnya masyarakat akan mampu membuat keputusan sendiri soal sunat perempuan. Dalam proses menuju kesana, tindakan seperti melarang tenaga medis melayani sunat perempuan, hanya akan menjadikan batu sandungan. Alih-alih mampu menghentikan, bukan tidak mungkin justru menjadi bumerang.

Sumber: Dokter Tonang

Mengkhitan Pertama Kali

Kala itu, aku sedang termangu, menatap dinding-dinding putih yang bisu. Buku yang sejak lama kubaca, tak satu pun mau menempel di kepalaku. Pasien sedang sepi. Tanggal tua barangkali. Hmm... beginilah nasib dokter baru, yang bekerja di klinik tak menentu. Kadang duduk berjam-jam hanya ditemani lalat. Tak jarang pula peluh membanjir saking ramainya kunjungan pasien. Mendadak, kesunyian itu lenyap. Serombongan keluarga tergopoh-gopoh menghampiri ruangan berdinding putih itu, ruang praktek kerjaku.

"Dok, tolong dok, ini anak nangis terus dari tadi. Sakit dok, tolong... kasihan anak ini dok..." ujar perempuan muda didepanku. Matanya menatap pilu bocah yang digendong oleh lelaki disebelahnya. Logat Jawanya begitu kental, pendatang tampaknya. Air mata mengambang di pelupuk mata perempuan itu. Seperti menahan sakit, yang menjalar juga ke relung dadanya. Pasti ibunya, pikirku.

"Iya dok, itu kasihan tuh anaknya dok..." ujar salah seorang keluarga pengantar.

"Anaknya kenapa bu, sini-sini tidurin disini bu?" sahutku tenang, sambil meminta perempuan itu membawa anaknya ke ranjang pemeriksaan. Satu tahun bekerja di klinik setiap pagi dan sore cukup membuatku mampu menghadapi situasi semacam ini.

"Ealah dok..dok... yang namanya lagi sial ya begini ini dok. Tadi itu habis pipis sendiri, lagi pake celana, koq tititnya malah kejepit resleting dok... gimana ini dok... Mbok ya tolong dilepas dok, kasian nangis terus kayak gini ini dok..."

"Wah iya pasti khawatir ya bu kalau anaknya nangis terus kayak gini. Coba...sini...sini... dilihat dulu sayang yuk..." Aku menghampiri bocah lelaki itu. Tangisnya semakin keras. Tangis karena takut dan nyeri.

"Takut ya sayang ya, sakit juga ya... dilihat sebentar tititnya ya, nggak diapa-apain koq cuma dilihat..." aku tersenyum sambil berusaha menatap mata bening bocah berusia 5 tahun itu.

Airmatanya tak juga berhenti menetes, namun tidak sederas sebelumnya. Aku melihat keadaan penis anak itu, belum disunat rupanya. Potongan resleting celana tampak menjepit bagian ujung penisnya. Jepitannya begitu kuat. Tak bisa tidak, sebagian kulit penisnya harus digunting untuk melepaskannya. Menggunting kulit berarti harus melakukan anastesi. Kenapa tak disunat saja sekalian. Toh tindakan dan resikonya sama saja dengan disunat. Kesimpulan itulah yang akhirnya muncul di kepalaku.

Deg. Jantungku mulai berdegup lebih kencang. Sunat? Sanggupkah aku melakukannya seorang diri ? Atau haruskah aku merujuknya? Aku memang sudah beberapa kali mengkhitan anak-anak. Tapi aku selalu dibantu oleh dokter seniorku. Aku belum pernah melakukannya seorang diri, tanpa asisten pula. Di klinik ini hanya ada Yono, yang membantu bagian pendaftaran dan masalah obat-obatan. Hmm, kebimbangan menyergapku.

Kalau aku gagal bagaimana? Apa kata dunia? Jangan-jangan malah dituntut. Sekarang kan sedang jaman tuntut-menuntut. Belum lagi ingatan tentang kisah-kisah seniorku yang bernasib sial. Kisah senior yang diburu keluarga pasien lantaran pasiennya meninggal tak lama setelah disuntik. Cerita tentang kakak kelasku yang pasiennya mendadak tak sadar sehabis disuntik. Beragam kisah-kisah sial lainnya mendadak bermunculan di benakku. Dadaku menjadi sesak rasanya. Ah, tapi mereka kan hanya sedang sial. Kalau semua sesuai prosedur, apa yang mau dituntut? . Toh, aku sudah pernah melakukannya. Ya, tapi masalahnya, dulu selalu ada dokter senior yang membantuku dan sekaligus bertanggungjawab bila terjadi sesuatu. Sekarang, aku harus bertindak sendiri, aku pula yang harus menanggung resiko kalau terjadi apa-apa. Wuaduh...bingung...bingung... bagaimana ya?

Tapi, bukankah aku harus segera mengambil keputusan?. Oke... aku harus mempertimbangkannya masak-masak dalam hitungan detik. Kalau aku merujuk bocah ini ketempat lain, aku membuang kesempatan berharga untuk belajar mandiri. Belum tentu aku mendapatkan peluang seperti ini dilain waktu. Apakah aku hendak selalu bergantung pada dokter lain? Alasan selanjutnya, kasihan keluarga ini kalau pulang dengan tangan hampa. Malah mereka harus repot membayar uang konsultasi di tempatku dan membayar lagi di tempat rujukan nanti. Belum lagi masalah waktu, bocah itu sudah menangis sedari tadi. Ah, sebetulnya masalahnya kan cuma satu, aku belum percaya diri untuk melakukannya seorang diri, itu saja. Mmm... bagaimana ya? "Ayo Nes... kamu pasti bisa...there is always the first time Nes...Bismillah aja deh" hatiku berbisik untuk meyakinkan diriku sendiri.

"Ibu, jepiitan resletingnya kuat sekali bu, jadi tititnya harus digunting. Harus dibius dulu daerah sekitar tititnya sebelum digunting. Ibu muslim kan?" Kata-kata itulah yang akhirnya terucap dari mulutku.

"Iya dok, muslim"

"Menurut saya, karena tindakan dan resikonya sama aja dengan disunat, lebih baik sekalian disunat saja bu anaknya. Sekalian sakit bu, daripada nanti anaknya harus ngalami kayak gini lagi. Gimana menurut ibu?"

"Hah disunat dok? Lho, dokter perempuan memangnya bisa nyunat? Lagipula saya belum ada persiapan dok kalau disunat. Orang Jawa kalau sunat kan harus pake acara rame-rame dok."

"He he, perempuan atau laki-laki kan sama-sama belajarnya waktu kuliah dulu bu" aku geli melihat si ibu yang keheranan dan menjadi sedikit ragu.

"Tapi keputusan tetap ibu yang ambil ya bu, saya kan hanya memberi saran"

"Kalau gitu saya telpon suami saya dulu ya bu dokter"

"Lho itu tadi bukan suaminya ya?"

"Bukan bu dokter, itu adek saya. Suami saya lagi kerja."

Aku menunggu perempuan itu mengambil keputusan. Hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil. "Ya Allah, ini bukan kondisi darurat, anak itu pun baik-baik saja. Aku hanya harus mengkhitan seorang diri pertama kali. Kenapa aku deg-deg an ya Allah. Aku tak tahu, kenapa Kau hadirkan bocah ini kehadapanku. Kalau ini memang jalan dariMu agar aku belajar, mudahkanlah semuanya ya Allah, berilah aku ketenangan." doa itulah yang akhirnya menenangkan gelisahku.

"Bu dokter, sunat aja deh bu. Kata suami saya acara rame-rame ya dibuat aja besok-besok, kasian anaknya bu. Tapi anak saya nggak apa-apa kan bu kalau disunat?"

"Iya bu, Insya Allah nggak apa-apa. Sunat itu cuma tindakan kecil koq bu, setengah jam juga beres. Tolong aja anaknya dipegang sama om nya nanti ya bu."

Dengan tak henti-hentinya berdoa memohon ketenangan dan kelancaran, aku memulai proses mengkhitan pertama kali ini. Tanpa ada asisten ataupun penanggung jawab bila terjadi sesuatu.

Tanganku sedikit gemetar ketika jarum suntik berisi Lidocain menembus kulit diatas tulang kemaluan anak itu. Tentu saja dia menangis keras ketika jarum suntik menembus kulitnya. Untung lah anak itu termasuk ‘anak mudah’ tidak mengamuk dan menendang-nendangkan kakinya. Semua itu betul-betul memudahkanku. Lantas, aku melanjutkan proses anastesi di sekitar penisnya. Ah, berhasil juga rupanya. Tak berapa lama, tangisan anak itu berubah, bukan lagi tangis kesakitan. Hanya rengekan kelelahan dan takut.

Perlahan tapi pasti, ketenangan mulai merasuki jiwaku. Pelan-pelan kubersihkan smegma (sekret dari kelenjar sebasea, berwarna putih seperti keju) yang menempel di sekeliling pangkal penis. Dua buah klem aku jepitkan di ujung kemaluan anak lelaki itu. Akhirnya, Bismillah... aku memotong ujung kulit penis anak itu. Aku semakin merasa ringan. Pekerjaanku hampir usai, tinggal mengatasi perdarahan dan menjahit kulit saja.

“Alhamdulillah... sudah selesai. Tiga hari lagi kontrol ya bu...” Hmh... terucap juga kalimat itu akhirnya dari bibirku. Puas rasanya, lega, dan bersyukur tentu saja. Semua berjalan lancar. Dan yang teramat penting bagiku, aku telah memilih, aku juga telah berhasil mengalahkan segala rasa khawatir yang berkeliaran dalam hatiku. Hidup memang terdiri dari serangkaian pilihan. Kemampuan untuk memilih secara sadar dan bertanggungjawab adalah sebuah keahlian yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Andai saja aku memilih cara termudah- merujuk anak ini tadi, tentu aku akan kehilangan pengalaman berharga yang telah dihadirkan Allah kepadaku. Sejak saat ini, aku semakin percaya diri untuk mengkhitan. Dan tentu saja, kesadaran itu semakin merasuki relung jiwaku, kesadaran bahwa, hidup adalah sebuah pilihan!

Sumber: Agnes Tri Harjaningrum