Hampir dipastikan, setiap memasuki liburan sekolah seperti sekarang ini, bong supit atau sering disebut juru khitan kebanjiran pasien. Setiap kota yang mempunyai juru supit, seperti di Rumah Sakit, Puskesmas, maupun Klinik, setiap harinya tidak pernah sepi dari praktik ”mutilasi” burung yang hanya dikhususkan bagi pasien laki-laki ini. Tidak terkecuali dengan Yogyakarta yang sudah terkenal sejak dulu kala, sebagai primadonanya ”potong burung” seperti Bogem dan anak buahnya yang sudah praktik mandiri, selalu disibukkan dengan kehadiran para pasien. Mereka umumnya hanya menjadi pasien sekali seumur hidup dan rata-rata adalah anak-anak yang menginjak remaja (akil balig). Memang ada satu dua yang terkadang sudah memasuki usia muda atau bahkan stw alias setengah tua.
Klinik ”mutilasi” burung di Yogyakarta memang ada beberapa tempat yang terkenal. Selain salah satu tempat yang sudah terkenal, yaitu daerah Bogem, Kalasan, Sleman, daerah lain yang sekarang mulai ngetren adalah daerah Pundong, Tirtoadi, Mlati, Sleman. Jika di Bogem pada awalnya terkenal dengan model supit tradisional, maka supit atau orang Jawa mengistilahkan dengan sunat (tetak), di daerah Dusun Pundong ini terkenal dengan model sunat laser atau cotery. Sunat model baru yang hanya memakan waktu sekitar 5 menit ini ternyata salah satunya dipelopori oleh Suryono Suryo Husodo (45). Walaupun begitu, sunat model tradisional di tempat ini juga dilayani.
Seorang bapak berputra 3 orang ini berkisah kepada Tembi ketika sempat mewawancarainya, bahwa sunat model laser ini dikembangkan setelah beberapa kali mengikuti pelatihan sunat dengan berbagai model. Lalu ia berniat mengembangkan sunat model laser ini, karena memiliki beberapa keunggulan, seperti pengerjaan cepat (sekitar 5 menit), tidak berdarah, tidak sakit, dan cepat sembuh (sekitar 3-5 hari). Karena sedikit risiko inilah yang kemudian banyak orang tua yang memilih menyunatkan anak laki-lakinya kepadanya. Masih menurut penjelasannya, anak-anak yang habis disunat akan semakin cepat sembuh, apabila sering mengonsumsi telur ayam kampung karena banyak mengandung protein.
Para orang tua pasien jangan berpikir bahwa sunat model laser itu berbiaya tinggi yang mencapai jutaan rupiah. Sunat di Klinik Suryono Suryo Husodo ini relatif murah, karena tarifnya hanya sekitar Rp 250.000—Rp 350.000,- tergantung kelasnya. Tarif itu dipajang jelas di ruang tunggu dan dinding depan klinik. Di sana tertera jelas tarifnya, kelas I Rp 350.000,-, kelas II Rp 300.000,- dan kelas III Rp 250.000,-. Tidak ada biaya tambahan lain. Kejelasan tarif ini mungkin sebagai salah satu bentuk transparansi. Ternyata pembedaan tarif ini hanya berpengaruh terhadap jenis obat yang diberikan kepada pasien. Sementara jenis penanganan terhadap pasien yang sedang sunat adalah sama. Jenis obat yang diberikan kepada pasien, setidaknya ada 2 macam, yakni jenis anti biotik dan anti inflamasi.
Lelaki yang setiap hari bertugas di RSUD Morangan Sleman Bagian Bedah ini kembali menuturkan, bahwa beliau sudah melakoni menjadi bong supit sekitar 21 tahun lamanya. Sebelum membuka praktik sendiri, ia juga mengaku pernah ikut bergabung dengan Bong Supit Bogem (Bilal Suyaroh) selama 2 tahun. Sementara praktik di kliniknya ini buka setiap hari Senin—Sabtu mulai pagi jam 06.00—08.00 WIB dan sore jam 15.00—21.00 WIB. Pada hari Minggu buka non stop mulai pagi hingga malam. Di Kliniknya (yang sebentar lagi akan berpindah ke alamat baru di Dusun Bedingin, Desa Sumberadi, Mlati, Sleman) ini, ia dibantu oleh 2 dokter dan beberapa perawat.
Pada hari-hari biasa, ia hanya menerima pasien rata-rata sehari 2 orang. Namun, apabila memasuki liburan sekolah (seperti tahun ajaran baru, Lebaran, Natal dan Tahun Baru) minggu pertama liburan, pasien sehari rata-rata mencapai 20 anak. Kebanyakan pasien berasal dari wilayah Yogyakarta. Namun kadang-kadang ada pasien luar kota saat berlibur ke Yogyakarta menyempatkan diri untuk sunat. Menurut pengalaman Pak Suryono, begitu panggilannya, yang pernah menjadi Juara II sebagai tenaga teknis pada tahun 1998 ini, ia juga pernah menangani pasien yang usianya sudah menginjak dewasa atau setengah tua. Umumnya mereka adalah dari Persatuan Tionghoa Muslim Indonesia (PTMI), dan beberapa pasien luar negeri seperti dari Jepang dan Pilipina. Jadi, memasuki liburan sekolah seperti sekarang ini, jangan heran apabila kliniknya selalu dipenuhi pasien, baik pagi, siang atau malam, silih berganti, seperti ketika Tembi datang ke tempat praktiknya.
Anda ingin mengitankan putra Anda ke Klinik Suryono Suryo Husodo? Alamatnya mudah dijangkau, yakni di Dusun Pundong II, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, dengan nomor telpon (0274) 7400 949/436 4195. Jika Anda hendak ke sana, bisa ditempuh lewat jalur Ring Road Utara Yogyakarta, tepatnya utara perempatan Jalan Magelang Ringroad Utara sebelum Terminal Jombor ada jalan aspal kecil ke arah barat hingga perempatan pasar Cebongan. Dari perempatan ini, terus ke barat hingga pertigaan yang di tengahnya ada pohon beringin, lalu ke arah selatan (ke kiri) hingga pertigaan lagi (juga ada pohon beringin). Dari pertigaan ini ke arah kanan sekitar 500 meter, kemudian tibalah ke Dusun Pundong II.
Sumber: Tembi
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Anak-Anak Khitan di Bogem
Setiap liburan sekolah, anak-anak usia SD, bahkan beberapa usia SMP, yang belum dikhitan pada memanfaatkan waktu liburnya untuk khitan. Di Jogja, salah satu tempat untuk khitan atau supit yang terkenal adalah di Bogem. Wuih, dari namanya saja sudah serem, yakni Bogem, akan tetapi ini hanyalah nama daerah yang berada di Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Tepatnya Juru Supit Bogem.
Sebenarnya, ada saja yang khitan tidak bertepatan dengan liburan sekolah, namun ketika liburan sekolah jauh lebih ramai. Sebagaimana liburan sekolah tahun ini, tempat khitan yang didirikan oleh Alm. Raden Ngabehi Noto Pandoyo sejak tahun 1939 ini juga dipadati pengunjung. Tidak hanya anak-anak dari Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan yang dari luar kota juga banyak. Tempat khitan yang berada persis di sisi utara Jalan Solo – Jogja KM.16 itu semakin dipadati pengunjung karena ternyata yang mengantar anak-anak yang khitan itu tidak hanya orangtuanya; ada yang diantar kakek-neneknya, pakde-budhenya, bahkan ada yang diantar para tetangganya.
Agar pada saat datang ke tempat khitan sang anak tidak menunggu terlalu lama, biasanya beberapa hari atau sehari sebelumnya orangtuanya atau keluarga sudah mendaftar untuk khitan pada hari yang diinginkan. Pada saat datang, keluarga tinggal mendaftar ulang, setelah itu anak yang akan dikhitan dipakaikan sarung dan dilepas celana dalamnya, kemudian duduk di deret kursi antrian untuk memasuki ruang khitan. Urutan dipanggil ini sesuai dengan nomor daftar ulang ketika datang ke tempat khitan.
Pada saat memasuki ruang khitan tidak satu per satu anak dipanggil, akan tetapi langsung beberapa anak secara berkelompok. Ketika sang anak memasuki ruang khitan, keluarga menunggu di luar ruangan. Tidak lama kemudian, setelah anak selesai dikhitan, keluarga dipanggil dari pintu yang lain untuk memasuki ruang istirahat sementara setelah anak dikhitan. Di ruang inilah anak-anak berbaring di dipan-dipan yang tersedia. Dengan sukacita masing-masing keluarga menemui anaknya yang dikhitan. Lalu, ada petugas yang menerangkan kepada seluruh keluarga yang hadir di ruangan itu tentang bagaimana caranya merawat dan mengobati anaknya yang telah dikhitan.
Sumber: Akhmad Muhaimin Azzet
Musim khitan di masa liburan
Di dalam Islam berkhitan adalah sunnah Rasul bagi anak laki-laki sebelum akil baliq (masa menginjak dewasa). Tanda seorang menjadi muslim adalah dia dikhitan. Ajaran khitan ternyata tidak hanya dalam agama Islam saja, penganut Yahudi juga melaksanakan khitan. Dalam sejarahnya Nabi Isa (Yesus) juga dikhitan karena dia terlahir dari seorang Yahudi, namun pengikut agama Nasrani saat ini tidak melaksanakan khitan sebagaimana Nabi Isa. Saya tidak tahu alasannya, mungkin pembaca yang beragama Kristen bisa menjelaskannya.
Khitan artinya membuang kulit kulup penutup (maaf) alat kelamin laki-laki. Ilmu kedokteran sudah mengakui kalau khitan ternyata mempunyai manfaat ditinjau dari sudut medis, yaitu untuk menghindari penularan penyakit kelamin, HIV, dan sebagainya. Kulit penutup alat kelamin laki-laki tadi adalah sarangnya kotoran yang sulit dibersihkan dan tempat subur kuman penyakit. Dengan membuang kulup tadi maka seorang laki-laki terhindar dari penyakit melalui alat kelaminnya. Karena alasan medis tadi, banyak orang yang bukan muslim sekalipun melaksanakan khitan, termasuk di klink khitan yang akan saya ceritakan nanti.
Tiap suku bangsa di Indonesia mempunyai tradisi khitan masing-masing. Orang Sunda mengkhitankan anaknya ketika masih balita, yaitu umur 3 hingga 5 tahun. Sebaliknya orang Jawa mengkhitankan anak ketika mendekati akil baliq, yaitu kira-kira masih kelas 6 SD atau umur 12 tahun. Sedangkan orang Minang seperti saya tengah-tengahnya, yaitu ketika anak berumur 9 atau 10 tahun (kelas 4 atau 5 SD). Di tanah Sunda prosesi khitan diakhiri dengan pesta syukuran dengan menghadirkan kesenian sisingaan. Anak laki-laki yang telah dikhitan dinaikkan ke atas sisingaan sebagai pengantin sunat, lalu ditandu oleh orang dewasa yang membawa sisingaan itu. Tujuannya adalah untuk memberi hiburan bagi anak dan melupakan rasa sakit akibat disunat. Saat ini kesenian sisingaan sudah banyak digantikan dengan orgen tunggal.
Sejak awal tahun 2010 saya sudah survei tempat-tempat khitan dan bertanya kepada teman-teman serta tetangga. Saya juga membaca tentang teknik khitan yang beraneka ragam, ada yang cara biasa, ada pula dengan teknik laser (yang sebenarnya adalah pisau elektrik atau cauter). Pokoknya cari tempat khitan yang tidak menimbulkan terlalu sakit bagi anak. Pilihan saya jatuh pada Klinik Khitan Dokter Seno (Seno Medika) di Jalan Ahmad Yani, Cicadas Bandung. Klinik ini memang sudah terkenal sejak tahun 1973 sebagai tempat khitan. Alasan memilih tempat ini berdasarkan pengalaman orang yang anaknya dikhitan. Katanya khitan oleh Dokter Seno tidak terasa sakit dan cepat sembuh (tiga hari sudah sembuh). Selain itu luka khitan tidak diperban. Oh ya, Dokter Seno juga sudah pengalaman mengkhitan anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis, hiperaktif, down syndrome, dan sebagainya
Yang disunat adalah anak, tetapi yang stres adalah orangtuanya. Orangtua stres kalau nanti anaknya meronta, ketakutan, takut banyak pendarahan, dan pelbagai pikiran buruk lainnya menghantui. Sayapun begitu, malam sebelum dikhitan saya tidak bisa tidur membayangkan apa yang terjadi esok hari. Waktu khitan yang saya pilih adalah subuh. Waktu terbaik untuk khitan adalah dinihari hingga pagi hari sebab waktu itu aktivitas anak belum banyak bergerak sehingga peredaran darahnya belum terlalu lancar (tidak banyak pendarahan kalau dikhitan).
Setelah shalat Subuh kami membawa anak ke klinik dokter Seno. Oalah, ternyata musim liburan ini banyak sekali anak yang mau disunat. Yang disunat hanya seorang, tetapi pengantarnya banyak sekali, seperti mengantar jamaah haji saja. Mulai orangtua, kakek nenek, paman, dan sudara mengantar si anak ke dokter Seno. Ruang tunggu penuh dengan pengantar.
Banyak sekali anak-anak yang dikhitan hari itu, tidak henti-hentinya anak-anak mengalir datang dan pergi. Saya juga melihat dua orang anak dari etnis Tionghoa menunggu giliran untuk dikhitan. Saya juga mendengar nama anak yang berbau nama baptis (Laurensius) dipanggil masuk ke ruang operasi. Rupanya para orangua yang non muslim sudah banyak yang menyadarai manfaat khitan ini sehingga merekapun membawa anak-anaknya khitan di klinik dokter Seno.
Alhamdulillah, masa sulit itu akhirnya berakhir. Hari ini tadi pagi sungguh terasa berat, tetapi sekarang sudah lega rasanya. Salah satu fase dalam kehidupan anak lelaki muslim akhirnya sudah berhasil dilewati. Tinggal menunggu penyembuhan selama tiga hari, dan selama tiga hari itu saya tidak ke kantor untuk merawat luka khitan di rumah. Di rumah luka jahitan setelah dikhitan harus rajin ditetes obat supaya cepat kering dan lekas sembuh. Mudah-mudahan setelah dikhitan anak-anak itu menjadi anak yang shaleh. Mereka sudah melaksanakan salah satu sunnah Rasul.
Sumber: rinaldimunir
Anakku di khitan
Awal ceritanya di hari Senin tanggal 12 April 2010, ketika sore hari aku pulang dari kerja dan tak lama kemudian anakku Rafi juga pulang sekolah, kemudian sewaktu mau mandi , tiba tiba dia teriak dengan kencangnya lalu menangis..aku diamkan aja sambil menyisir rambut si kecil, dan biasanya dia teriak klo liat kecoa, tapi kok sepertinya nangisnya lain…lalu dia ke arahku sambil bilang,Ibu.. kencing Rafi kok darah! sontak aku kaget bukan main, lalu coba menyuruhnya untuk kencing lagi…ternyata masih darah juga keluar, tanpa menunggu lama2, cepat cepat kubawa dia ke klinik yang jaraknya sekitar 5 menit dari rumah, kebetulan sore itu hujan lebat bukan main..duh kasihan aku liat anakku, sepanjang jalan nangis terus…..kami berdua jalan kaki, karna ayahnya pun belum pulang kerja..
Sampai di klinik aku crita ke dokter Dani, akhirnya dia bilang terkena Infeksi saluran kemih saran dia sebaiknya di khitan saja, namun terlebih dahulu di obati infeksinya…baiklah pikirku dalam hati, akhirnya aku pulang dengan pikiran yang campur aduk….sementara rafi masih nangis gak berhenti, sampai dirumah aku suruh coba dia pipis masih juga bercampur dengan darah…
Akupun telpon ayahnya untuk segera pulang.. sesampainya dirumah,ayahnya juga aku, mencoba membujuk dengan menenangkan hatinya kataku, "klo cepat dikhitan,akan sembuh sakitnya dan gak kambuh lagi" yang ada jawabnya..iya, tapi kalo habis di khitan ganti HP baru ya Buk, Alamak !!! itu yang gak enak di dengar.. hehehe
Sebenarnya Rafi, sudah kambuh yang ketiga kalinya, dulu masih 3 tahun dan waktu TK.
Disamping itu juga dia sering nahan kencing klo disekolah, dengan alasan wcnya jorok, begitu juga habis pipis kadang tidak dibersihkan…itulah anak anak, susah dikasih tau….akhirnya kejadian deh :(
malamnyapun aku tak bisa tidur alias stress memikirkan si bocahku…kalo liat anak disunat sering, apalagi pernah ikut jadi panitia di acara sunatan massal, tapi klo anak sendiri yang ngalamin lain deh rasanya he..he..
Akhirnya karena masih penasaran, aku ambil second opinion untuk berobat lagi dan paginya aku coba bawa ke Rs.Awal Bros, disana di cek ke labor urinenya, hasilnya blooding positive dan bakterinya juga positive, dokter bilang Rafi mengalami phimosis, preputium tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis, sarannya juga sama setelah peradangan mereda, rasa nyeri berkemih membaik, lebih baik dilakukan sirkumsisi (khitan)agar peradangan dan kesulitan berkemih tidak terulang lagi.
No choice! akhirnya aku dan ayahnya sepakat untuk dikhitankan saja setelah membaik infeksinya….dan rafipun masuk sekolah seperti biasa, lalu ke sekolah untuk pamitan dengan gurunya kemudian cuti sekitar 5 hari....
Padahal, Aku dan Mbah utinya yang di Jogja dah punya rencana jauh jauh hari, klo Rafi libur sekolah sekalian khitan di Jogja aja, nanti di Bogem prambanan, seperti pakde pakdenya dulu hehe…
Namun semua hanyalah rencana..semuanya berpulang kepada Alloh SWT yang mengatur segalanya, sebagai hambanya kita hanya mampu menjalani, yang terpenting semuanya dapat berjalan dengan lancar…
Sebelumnya Pak dokter juga menawarkan jenis khitannya, ada yang konvensional (cara lama) atau laser…yang belum ada di rs terebut metode sunat dengan cara smart klamp, namun katanya biasanya terjadi pembengkakan dg metode yang terakhir tsb. Akhirnya kami sepakat menggunakan metode laser secara orang menyebutnya, namun aku lihat hanya menggunakan semacam cutter electric…kami memilih dengan laser karena prosesnya cepat dan tidak ada pendarahan atau sangat sedikit.
Hari Sabtu, 17 April 2010…kami pergi pagi pagi ke Rs.Awal Bros untuk mengantarkan Rafi khitan, di hari itu kebetulan Rafi dapat urutan no.3 jadi sekitar jam 1.30 siang …ditangani oleh Pak dokter spesialis urologi dr Syamsuhadi SpU …dan Alhamdulillah prosesnya berjalan dengan lancar.
Tragedi datang….
Dan sampai dirumah sekitar jam 2.30 siang…lalu karena kecapean semua pada ketiduran, sampai pada Rafi bangunin aku, katanya kok sepertinya ada yang mengalir di selangkangannya..aku coba liat ternyata memang betul , ada darah segar yang mengalir gak berhenti ! Waduh ada apalagi nih pikirku sambil sedikit panic, akhirnya buru buru kami bawa lagi ke RS.Awal Bros untuk di cek lagi, untung Pak dokternya masih ada, karena dr Syamsuhadi ternyata juga sebagai dr PNS di Bogor namun masih di perbantukan di Awal Bros menurut ceritanya...
Langsung masuk ruangan untuk di periksa oleh perawatnya, mulai deh Rafi nangis sekencang kencangnya ketika perbannya di buka oleh perawatnya, akupun jadi ikutan nangis ngeliatnya gak tega… pasti kesakitan yang luar biasa karena perban yang sudah melekat di jahitan di buka kembali…duh biyung……
Dokter Syamsu bilang kalau ada pembuluh yang terbuka dan akan ditambahkan 2 kali jahitan…Oh My GOD…gak kebayang banget Deh!!!
Awalnya mau disuntik bius tapi apa daya batang penis masih luka, jadi dg bius spray…tapi tetep aja sakit alias pedih..kamipun berempat, 2 perawat, aku dan ayahnya yang memegangi kaki dan tangan Rafi supaya pak Dokter bisa leluasa menjahit… Ya Alloh…kasihan banget bocahku…cepet sembuh ya Bang…
Di hari Rabunya 21 April, kamipun mengadakan Doa Syukuran sederhana untuk kesembuhan anakku Rafi, dengan mengundang pengajian mesjid bapak bapak, tetangga serta kerabat dekat…
Yang pasti, kami sekeluarga bahagia. Satu kewajiban pada anak lelaki telah kami tunaikan dengan baik. Harapan Ayah dan Ibu,”Semoga cepat Sembuh ya Abang Rafi”..dan cepat besar , Moga kelak menjadi anak yang Sholeh ya sayang, Amiin….
Sumber: Ibu Shella
Sampai di klinik aku crita ke dokter Dani, akhirnya dia bilang terkena Infeksi saluran kemih saran dia sebaiknya di khitan saja, namun terlebih dahulu di obati infeksinya…baiklah pikirku dalam hati, akhirnya aku pulang dengan pikiran yang campur aduk….sementara rafi masih nangis gak berhenti, sampai dirumah aku suruh coba dia pipis masih juga bercampur dengan darah…
Akupun telpon ayahnya untuk segera pulang.. sesampainya dirumah,ayahnya juga aku, mencoba membujuk dengan menenangkan hatinya kataku, "klo cepat dikhitan,akan sembuh sakitnya dan gak kambuh lagi" yang ada jawabnya..iya, tapi kalo habis di khitan ganti HP baru ya Buk, Alamak !!! itu yang gak enak di dengar.. hehehe
Sebenarnya Rafi, sudah kambuh yang ketiga kalinya, dulu masih 3 tahun dan waktu TK.
Disamping itu juga dia sering nahan kencing klo disekolah, dengan alasan wcnya jorok, begitu juga habis pipis kadang tidak dibersihkan…itulah anak anak, susah dikasih tau….akhirnya kejadian deh :(
malamnyapun aku tak bisa tidur alias stress memikirkan si bocahku…kalo liat anak disunat sering, apalagi pernah ikut jadi panitia di acara sunatan massal, tapi klo anak sendiri yang ngalamin lain deh rasanya he..he..
Akhirnya karena masih penasaran, aku ambil second opinion untuk berobat lagi dan paginya aku coba bawa ke Rs.Awal Bros, disana di cek ke labor urinenya, hasilnya blooding positive dan bakterinya juga positive, dokter bilang Rafi mengalami phimosis, preputium tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis, sarannya juga sama setelah peradangan mereda, rasa nyeri berkemih membaik, lebih baik dilakukan sirkumsisi (khitan)agar peradangan dan kesulitan berkemih tidak terulang lagi.
No choice! akhirnya aku dan ayahnya sepakat untuk dikhitankan saja setelah membaik infeksinya….dan rafipun masuk sekolah seperti biasa, lalu ke sekolah untuk pamitan dengan gurunya kemudian cuti sekitar 5 hari....
Padahal, Aku dan Mbah utinya yang di Jogja dah punya rencana jauh jauh hari, klo Rafi libur sekolah sekalian khitan di Jogja aja, nanti di Bogem prambanan, seperti pakde pakdenya dulu hehe…
Namun semua hanyalah rencana..semuanya berpulang kepada Alloh SWT yang mengatur segalanya, sebagai hambanya kita hanya mampu menjalani, yang terpenting semuanya dapat berjalan dengan lancar…
Sebelumnya Pak dokter juga menawarkan jenis khitannya, ada yang konvensional (cara lama) atau laser…yang belum ada di rs terebut metode sunat dengan cara smart klamp, namun katanya biasanya terjadi pembengkakan dg metode yang terakhir tsb. Akhirnya kami sepakat menggunakan metode laser secara orang menyebutnya, namun aku lihat hanya menggunakan semacam cutter electric…kami memilih dengan laser karena prosesnya cepat dan tidak ada pendarahan atau sangat sedikit.
Hari Sabtu, 17 April 2010…kami pergi pagi pagi ke Rs.Awal Bros untuk mengantarkan Rafi khitan, di hari itu kebetulan Rafi dapat urutan no.3 jadi sekitar jam 1.30 siang …ditangani oleh Pak dokter spesialis urologi dr Syamsuhadi SpU …dan Alhamdulillah prosesnya berjalan dengan lancar.
Tragedi datang….
Dan sampai dirumah sekitar jam 2.30 siang…lalu karena kecapean semua pada ketiduran, sampai pada Rafi bangunin aku, katanya kok sepertinya ada yang mengalir di selangkangannya..aku coba liat ternyata memang betul , ada darah segar yang mengalir gak berhenti ! Waduh ada apalagi nih pikirku sambil sedikit panic, akhirnya buru buru kami bawa lagi ke RS.Awal Bros untuk di cek lagi, untung Pak dokternya masih ada, karena dr Syamsuhadi ternyata juga sebagai dr PNS di Bogor namun masih di perbantukan di Awal Bros menurut ceritanya...
Langsung masuk ruangan untuk di periksa oleh perawatnya, mulai deh Rafi nangis sekencang kencangnya ketika perbannya di buka oleh perawatnya, akupun jadi ikutan nangis ngeliatnya gak tega… pasti kesakitan yang luar biasa karena perban yang sudah melekat di jahitan di buka kembali…duh biyung……
Dokter Syamsu bilang kalau ada pembuluh yang terbuka dan akan ditambahkan 2 kali jahitan…Oh My GOD…gak kebayang banget Deh!!!
Awalnya mau disuntik bius tapi apa daya batang penis masih luka, jadi dg bius spray…tapi tetep aja sakit alias pedih..kamipun berempat, 2 perawat, aku dan ayahnya yang memegangi kaki dan tangan Rafi supaya pak Dokter bisa leluasa menjahit… Ya Alloh…kasihan banget bocahku…cepet sembuh ya Bang…
Di hari Rabunya 21 April, kamipun mengadakan Doa Syukuran sederhana untuk kesembuhan anakku Rafi, dengan mengundang pengajian mesjid bapak bapak, tetangga serta kerabat dekat…
Yang pasti, kami sekeluarga bahagia. Satu kewajiban pada anak lelaki telah kami tunaikan dengan baik. Harapan Ayah dan Ibu,”Semoga cepat Sembuh ya Abang Rafi”..dan cepat besar , Moga kelak menjadi anak yang Sholeh ya sayang, Amiin….
Sumber: Ibu Shella
Khitan sebaiknya usia berapa?
Beberapa waktu yang lalu teman saya yang mempunyai anak laki-laki berusia sekitar 2,5 tahun cerita. bahwa sudah agak lama, anaknya sering demam tinggi, ketika ke dokter anak pasti penyebabnya karena ada infeksi di (maaf) alat kelamin putranya. Karena menumpuknya yang dalam medis disebut smegma (kotoran yang diproduksi). menurut beliau morfologi putranya mungkin agak berbeda ya sehingga mudah sekali terkena smegma yang sering bisamengakibatkan infeksi. melihat kondisi yang sering demam tinggi tersebut, sang ibu bertanya apakah gak sebaiknya di khitan aja sedari masih kecil ini, krn kalo cuman diobati tar muncul lagi smegma dan kembali demam tinggi. Namun saat itu dokter bilang belum perlu. Tapi sepertinya si Ibu berencana untuk mengkhitan lebih dini. Di negara kita khan seringnya khitan ketika usia2 SD kadang sampai usia kelas 5 SD.
ketika mendengar cerita ini, saya juga bilang : iya ya, sepertinya lebih dini mengkhitan lebih baik. Saya belum searching2 sih tentang kapan sebaiknya mengkhitan anak laki2 atau waktu yang pas. Si ibu juga cerita bahwa putra pertamanya dikhitan kelas 5 SD yang ternyata dah ada tanda2 puber. Nah lho..saya jadi kepikir secara putra sulung saya cowok, dalam hati sih batin tar InsyaAllah khitan agak awal ajah lah TK apa kelas 1 SD gitu.
beberapa waktu kemudian teman saya kembali cerita kalau putra 2,5 tahunnya dah dikhitan. Dikhitan sama dokter umum yang memang dah biasa mengkhitan. Saya ikut lega juga. beliau cerita InsyaAllah telah membuat keputusan yang tepat dengan kkhitan lebih dini demi kesehatan. kalau di luar negeri banyakan juga dikhitan ketika bayi tuk anak laki-laki.
3 hari setelah khitan, si anak kontrol kondisi baik, luka dah kering. Namun selang seminggu ternyata ada masalah lagi, dikonsul lagi dengan dokter yang mengkhitan ..ternyata oh ternyata : sunat gagal.. lemeslah si ibu mendengarnya.. Dan saya pun juga jd kaget dan ikut sedih bayanginya mendengar cerita ini. ternyata dr pengakuan si dokter bilang : kemarin karena masih kecil saya jadi hati-hati sekali, jadi kurang mengkhitannya. jadinya ini harus revisi. (glekkk).. Si ibu bilang : tulisan bisa direvisi…nha ini … duh duh… (speechless)
Sebenarnya si Ibu agak kesal juga dengan si dokter, dokternya juga tidak mau disalahin,karena belum pernah gagal selama ini. Namun ya si Ibu berusaha ikhlas dan mengupayakan langkah yang terbaik buat si anak.
Akhirnya si anak di bawa ke dokter spesialis bedah anak untuk dicek kondisinya. Dan memang sunatnya gagal serta terjadi yang disebut fimosis (terjadi pengkerutan atau penciutan kulit depan) dan harus di revisi (ini stilah dokternya) dengan kata lain di sunat ulang. Duh kasihan mendengarnya..namun demi yangterbaik harus tetap dilaksanakan. Si dokter memberi kelonggaran terserah kapan aja siapnya, namun orang tua anak tersebut merencanakan lebih cepat lebih baik.
setelah mendengar cerita ini yang sebelumnya saya kepikir juga untuk kalo khitan lebih dini, jadi berpikir lagi. mau browsing2 dulu tentang ini. Atau anda yang telah berpengalaman, minta sharingnya tentang sebaiknya usia berapa anak laki-laki dikhitan. Yuk sharing… Selain tentu saja mengikuti Sunah Rasulullah juga demi kesehatan.
Si ibu bercerita kepada saya, sebagai bentuk sharing danpengalaman mengingat anak saya juga laki-laki. beliau bilang : tar kalau khitan langsung aja sama dokter spesialis bedah anak.
dan beberapa selang setelah cerita ini, beliau cerita sudah menghubungi tempat praktek sang dokter spesialis bedah anak tersebut dan wow wow kaget ternyata biaya khitannya adalah min 3,5 juta.. eng ing eng saya jadi mikir : kok ya lebih mahalan biaya melahirkan yak . Si ibu juga kaget gak menyangka dengan biaya tersebut, 10 kali lipat dr biaya khitan dengan dokter umum. Namun karena ada masalah dengan khitan pertama putranya, si ibu tetap memilih dengan dokter spesialis bedah anak.
Dan ternyata di dua tempat praktek yang berbeda dengan dokter yang sama biayanya berbeda selisih kurang lebih separuh.. wow ..fenomena apa ini ya? dokter yang sama, tapi tempat praktek berbeda harga beda jauh. beliau milih yang tempat praktek yang lebih kecil namun dengan dokter yang sama dengan biaya separuh dr RS satunya. Kemungkinan yang kita pikirkan kenapa biaya berbeda adalah karena satunya adalah RSIA besar dan satunya hanya klinik bersalin, kemungkinan di RSIA yang besar plus tambah biaya2 macam2 dimana fasilitasnya lebih oke ..(hmm..tapi khan khitan gak pk nginep yak).. kalau kita pikir di dua tempat berbeda tersebut secara kenyamanan berbeda ya..tapi dengan dokter yang sama saya percaya dokter gak akan beda bedain kemampuan sesuai kelas RS kan hehehe (semoga).. jadi ya oke juga pilihan dengan dokter yang sama namun tempat praktek beda dan harga yang separuhnya…yang kita utamakan kan jasa dan kemampuan dokternya (saya kan gak beli mereknya)
Apapun itu…semoga buat putra teman saya , khitan yang kedua dapat berjalan lancar dan sukses, serta sehat selalu… (sampai ini ditulis khitan belum dilaksanakan..masih seminggu lagi dijadwalkan.)
Oiya..tentang biaya khitan dokter spesialis bedah anak yang mencapai 3,5 juta.. Si Ayahnya Affan bilang : di desaku, semua kl khitan ke pak bong (yang sering mengkhitan didesa disebut Pak bong) boleh cuman bawa gula teh… hahaha si Ayah ini
Pas cerita ini keteman-teman pada bilang: sama ajah kan ya hasilnya.
Sumber: Omietha
ketika mendengar cerita ini, saya juga bilang : iya ya, sepertinya lebih dini mengkhitan lebih baik. Saya belum searching2 sih tentang kapan sebaiknya mengkhitan anak laki2 atau waktu yang pas. Si ibu juga cerita bahwa putra pertamanya dikhitan kelas 5 SD yang ternyata dah ada tanda2 puber. Nah lho..saya jadi kepikir secara putra sulung saya cowok, dalam hati sih batin tar InsyaAllah khitan agak awal ajah lah TK apa kelas 1 SD gitu.
beberapa waktu kemudian teman saya kembali cerita kalau putra 2,5 tahunnya dah dikhitan. Dikhitan sama dokter umum yang memang dah biasa mengkhitan. Saya ikut lega juga. beliau cerita InsyaAllah telah membuat keputusan yang tepat dengan kkhitan lebih dini demi kesehatan. kalau di luar negeri banyakan juga dikhitan ketika bayi tuk anak laki-laki.
3 hari setelah khitan, si anak kontrol kondisi baik, luka dah kering. Namun selang seminggu ternyata ada masalah lagi, dikonsul lagi dengan dokter yang mengkhitan ..ternyata oh ternyata : sunat gagal.. lemeslah si ibu mendengarnya.. Dan saya pun juga jd kaget dan ikut sedih bayanginya mendengar cerita ini. ternyata dr pengakuan si dokter bilang : kemarin karena masih kecil saya jadi hati-hati sekali, jadi kurang mengkhitannya. jadinya ini harus revisi. (glekkk).. Si ibu bilang : tulisan bisa direvisi…nha ini … duh duh… (speechless)
Sebenarnya si Ibu agak kesal juga dengan si dokter, dokternya juga tidak mau disalahin,karena belum pernah gagal selama ini. Namun ya si Ibu berusaha ikhlas dan mengupayakan langkah yang terbaik buat si anak.
Akhirnya si anak di bawa ke dokter spesialis bedah anak untuk dicek kondisinya. Dan memang sunatnya gagal serta terjadi yang disebut fimosis (terjadi pengkerutan atau penciutan kulit depan) dan harus di revisi (ini stilah dokternya) dengan kata lain di sunat ulang. Duh kasihan mendengarnya..namun demi yangterbaik harus tetap dilaksanakan. Si dokter memberi kelonggaran terserah kapan aja siapnya, namun orang tua anak tersebut merencanakan lebih cepat lebih baik.
setelah mendengar cerita ini yang sebelumnya saya kepikir juga untuk kalo khitan lebih dini, jadi berpikir lagi. mau browsing2 dulu tentang ini. Atau anda yang telah berpengalaman, minta sharingnya tentang sebaiknya usia berapa anak laki-laki dikhitan. Yuk sharing… Selain tentu saja mengikuti Sunah Rasulullah juga demi kesehatan.
Si ibu bercerita kepada saya, sebagai bentuk sharing danpengalaman mengingat anak saya juga laki-laki. beliau bilang : tar kalau khitan langsung aja sama dokter spesialis bedah anak.
dan beberapa selang setelah cerita ini, beliau cerita sudah menghubungi tempat praktek sang dokter spesialis bedah anak tersebut dan wow wow kaget ternyata biaya khitannya adalah min 3,5 juta.. eng ing eng saya jadi mikir : kok ya lebih mahalan biaya melahirkan yak . Si ibu juga kaget gak menyangka dengan biaya tersebut, 10 kali lipat dr biaya khitan dengan dokter umum. Namun karena ada masalah dengan khitan pertama putranya, si ibu tetap memilih dengan dokter spesialis bedah anak.
Dan ternyata di dua tempat praktek yang berbeda dengan dokter yang sama biayanya berbeda selisih kurang lebih separuh.. wow ..fenomena apa ini ya? dokter yang sama, tapi tempat praktek berbeda harga beda jauh. beliau milih yang tempat praktek yang lebih kecil namun dengan dokter yang sama dengan biaya separuh dr RS satunya. Kemungkinan yang kita pikirkan kenapa biaya berbeda adalah karena satunya adalah RSIA besar dan satunya hanya klinik bersalin, kemungkinan di RSIA yang besar plus tambah biaya2 macam2 dimana fasilitasnya lebih oke ..(hmm..tapi khan khitan gak pk nginep yak).. kalau kita pikir di dua tempat berbeda tersebut secara kenyamanan berbeda ya..tapi dengan dokter yang sama saya percaya dokter gak akan beda bedain kemampuan sesuai kelas RS kan hehehe (semoga).. jadi ya oke juga pilihan dengan dokter yang sama namun tempat praktek beda dan harga yang separuhnya…yang kita utamakan kan jasa dan kemampuan dokternya (saya kan gak beli mereknya)
Apapun itu…semoga buat putra teman saya , khitan yang kedua dapat berjalan lancar dan sukses, serta sehat selalu… (sampai ini ditulis khitan belum dilaksanakan..masih seminggu lagi dijadwalkan.)
Oiya..tentang biaya khitan dokter spesialis bedah anak yang mencapai 3,5 juta.. Si Ayahnya Affan bilang : di desaku, semua kl khitan ke pak bong (yang sering mengkhitan didesa disebut Pak bong) boleh cuman bawa gula teh… hahaha si Ayah ini
Pas cerita ini keteman-teman pada bilang: sama ajah kan ya hasilnya.
Sumber: Omietha
Bong Supit Bogem
Bogem aselinya adalah bong supit (juru khitan, sunat, bengkong) kenamaan di daerah Prambanan – Jawa Tengah. Pelanggannya banyak sehingga mereka buka cabang dimana-mana, termasuk Jakarta.
Tanggal 19 Juni lalu, sekitar jam 03:00 saya sudah berada di jalan PKP/Kiwi no 1A Kelapa Dua Wetan Ciracas. Sebetulnya saya siapkan potret untuk kenang-kenangan, misalnya mengabadikan alamatnya, suasana penyembelihan (serem). Namun gara-gara parkirnya sudah sesak (jam 3:30 dinihari), saya sempat berkutat berapa lama dengan mas Parkir. Maksudnya sih agar jangan mengganggu lalu lintas sekitar bengkong (juru supit). Harap maklum liburan anak sekolah biasanya diisi oleh khitanan.
Betul saja, waktu saya masuk ruang tunggu ternyata Gilang sudah di panggil. Hanya ayahnya yang tadinya gagah kepingin mengabadikan sang putra, kini dia merasa mual.
Tadinya dia “aksi” bilang ke istrinya agar jangan mengusik kami pakdenya. “Masak sedikit-sedikit minta tolong Pakde dan Bude, malu lah..”
Ketika azan subuh dikumandangkan. Gilang sudah berbaring diruang recovery.
Berkali-kali kedua orang tua Gilang mencoba mengabadikan pakai HP. Tapi gagal lantaran lampu penerangan di ruang recovery yang temaram HPnya macet. Dan tidak sia-sia saya selalu mengantungi kamera kemana pergi. Kali ini kamera beraksi, cekrak-cekrek.
Saya saksikan gilang dan temannya nampak santai, sumeleh. Tidak nampak ketakutan atau kesakitan diwajahnya. Bahkan ada teman se-kloter sudah mengiba mamanya untuk bisa main bola setelah sunat ini.
Setelah ada enam anak dari kloter gilang dibaringkan, bong supit menjelaskan obat bubuk untuk di taburkan pada luka (hanya kalau berdarah), lalu obat penghilang rasa sakit kalau nanti efek bius sudah hilang. Dan pelbagai nasihat – untuk tidak mandi selama dua hari (diseka air saja). Bahkan didemonstrasikan cara menggunakan panti liner sebagai pembalut luka. Seperti lagu dangdut ..Teganya..teganya
Kepada Gilang, mengingat tubuhnya yang tambun diminta datang dua hari mendatang. Bong supit bilang, penisnya kecil (saya kepikiran akan usul ke salon mak erot), mungkin hasil salon supit tidak maksimal. Belakangan saya tahu bahwa kekuatiran akan penis kecil sementara boleh disingkirkan. Gilang tetap normal.
Lalu saya ingat pada 14 Nopember 1966, bersamaan dengan uang kita di sunat dari 1000 rupiah menjadi satu rupiah, maka secara rombongan saya dikirim ke poliklinik Brimob untuk menjalani salon khusus pria.
Sakitnya – ampun ampun. Dua kali suntikan bius tidak berefek seperti diharapkan. Bukan saya yang kebal, tetapi harap maklum, jaman perang konfrontasi dengan Malaysia, semua serba darurat dan miskin. Obat-obatan kadaluwarsapun dijeksikan kepada pasien. Ketimbang tidak ada.
Sebulan saya tidak bisa sekolah sebab terjadi infeksi. Begitu juga ketika anak bungsu saya disunat, dia nampak menderita dan memakan waktu penyembuhan sampai lebih dari dua minggu. Lha kok ini bisa berbeda sama sekali.
Tapi – kepada orang tua Gilang saya tanyakan, apa sih alasan mendasar menggunakan jasa salon “lelaki” Bong Bogem.
Pertama, selain prosedur kerja yang cepat, maka nilai “non alamiah” – yang ingin dicapai adalah banyak alumnus salon ini bisanya sebagian besar sukses di kehidupan. Jadi mengapa tidak berharap doa sang bongsupit yang manjur.
ALAMAT
Bong Supit Bogem
Jalan PKP no 1A Kelapa Dua, Ciracas, Jakarta Timur.
Sumber: Mimbarsaputro
Tanggal 19 Juni lalu, sekitar jam 03:00 saya sudah berada di jalan PKP/Kiwi no 1A Kelapa Dua Wetan Ciracas. Sebetulnya saya siapkan potret untuk kenang-kenangan, misalnya mengabadikan alamatnya, suasana penyembelihan (serem). Namun gara-gara parkirnya sudah sesak (jam 3:30 dinihari), saya sempat berkutat berapa lama dengan mas Parkir. Maksudnya sih agar jangan mengganggu lalu lintas sekitar bengkong (juru supit). Harap maklum liburan anak sekolah biasanya diisi oleh khitanan.
Betul saja, waktu saya masuk ruang tunggu ternyata Gilang sudah di panggil. Hanya ayahnya yang tadinya gagah kepingin mengabadikan sang putra, kini dia merasa mual.
Tadinya dia “aksi” bilang ke istrinya agar jangan mengusik kami pakdenya. “Masak sedikit-sedikit minta tolong Pakde dan Bude, malu lah..”
Ketika azan subuh dikumandangkan. Gilang sudah berbaring diruang recovery.
Berkali-kali kedua orang tua Gilang mencoba mengabadikan pakai HP. Tapi gagal lantaran lampu penerangan di ruang recovery yang temaram HPnya macet. Dan tidak sia-sia saya selalu mengantungi kamera kemana pergi. Kali ini kamera beraksi, cekrak-cekrek.
Saya saksikan gilang dan temannya nampak santai, sumeleh. Tidak nampak ketakutan atau kesakitan diwajahnya. Bahkan ada teman se-kloter sudah mengiba mamanya untuk bisa main bola setelah sunat ini.
Setelah ada enam anak dari kloter gilang dibaringkan, bong supit menjelaskan obat bubuk untuk di taburkan pada luka (hanya kalau berdarah), lalu obat penghilang rasa sakit kalau nanti efek bius sudah hilang. Dan pelbagai nasihat – untuk tidak mandi selama dua hari (diseka air saja). Bahkan didemonstrasikan cara menggunakan panti liner sebagai pembalut luka. Seperti lagu dangdut ..Teganya..teganya
Kepada Gilang, mengingat tubuhnya yang tambun diminta datang dua hari mendatang. Bong supit bilang, penisnya kecil (saya kepikiran akan usul ke salon mak erot), mungkin hasil salon supit tidak maksimal. Belakangan saya tahu bahwa kekuatiran akan penis kecil sementara boleh disingkirkan. Gilang tetap normal.
Lalu saya ingat pada 14 Nopember 1966, bersamaan dengan uang kita di sunat dari 1000 rupiah menjadi satu rupiah, maka secara rombongan saya dikirim ke poliklinik Brimob untuk menjalani salon khusus pria.
Sakitnya – ampun ampun. Dua kali suntikan bius tidak berefek seperti diharapkan. Bukan saya yang kebal, tetapi harap maklum, jaman perang konfrontasi dengan Malaysia, semua serba darurat dan miskin. Obat-obatan kadaluwarsapun dijeksikan kepada pasien. Ketimbang tidak ada.
Sebulan saya tidak bisa sekolah sebab terjadi infeksi. Begitu juga ketika anak bungsu saya disunat, dia nampak menderita dan memakan waktu penyembuhan sampai lebih dari dua minggu. Lha kok ini bisa berbeda sama sekali.
Tapi – kepada orang tua Gilang saya tanyakan, apa sih alasan mendasar menggunakan jasa salon “lelaki” Bong Bogem.
Pertama, selain prosedur kerja yang cepat, maka nilai “non alamiah” – yang ingin dicapai adalah banyak alumnus salon ini bisanya sebagian besar sukses di kehidupan. Jadi mengapa tidak berharap doa sang bongsupit yang manjur.
ALAMAT
Bong Supit Bogem
Jalan PKP no 1A Kelapa Dua, Ciracas, Jakarta Timur.
Sumber: Mimbarsaputro
Khitan pake Smart Klamp
Selasa lalu 20 Januari 2009, Rizal dikhitan. Mumpung pas liburan sekolah jadi pas banget. Ceritanya si Rizal ini takut di sunat. Tapi karena dia sekolah di sekolah Islam, jadi banyak yang ngompori untuk cepet-cepet sunat ha..ha..
Sebetulnya sudah sejak kelas 1 sudah saya tawari.. Katanya kelas 2 aja.. Sudah kelas 2 katanya kelas 3 aja.. Nah sudah kelas 3 ditagih lagi nih..
"Mau ya Rizal sunat??" Dalam bayanganku paling ntar jawabannya nanti aja kelas 4 :).. But, surprisely Eh dia jawab "Mau".
Sebetulnya sudah sejak kelas 1 sudah saya tawari.. Katanya kelas 2 aja.. Sudah kelas 2 katanya kelas 3 aja.. Nah sudah kelas 3 ditagih lagi nih..
"Mau ya Rizal sunat??" Dalam bayanganku paling ntar jawabannya nanti aja kelas 4 :).. But, surprisely Eh dia jawab "Mau".
Langsung aja Bapaknya ngajak ke Rumah Sakit PHC di Perak pas hari Seninnya. Kenapa nggak datangin orang ke rumah aja?? Soalnya kita tahu Rizal takut sunat.. Khawatir sudah datangin orang habis itu gak mau disunat kan berabe ha..ha.. Kenapa di PHC? Karena mengiklankan sunat model baru yaitu smart klamp. Rizal kan gemuk, jadi ya agak susah karena penisnya jadi masuk. Dengan metode ini rasanya jadi lebih gampang.
Jadilah hari Seninnya diajak ke PHC.. Cuma sama bapaknya aja.. Di sana dia lihat prosesnya.. Emm kayaknya berani sih.. Tapi.. Begitu dianya mau dieksekusi... "Huaa..... aku gak mau disunat" he..he.. ternyata takut juga.. "Besok mau ya??"... "Mau kalau besok".. he..he.. dalam hati juga ragu apa mau ya??
Besoknya kita tagih lagi. Katanya mau.. Jadilah hari Selasa itu aku cuti..
Berangkat pagi sekitar jam 8.. Di mobil aku 'ngedem-edemi' Rizal supaya mau.. Aku jelaskan makna sunat itu bagi anak laki-laki.. Soal kedewasaan dan tanggung jawab.. Ciailah.. Pokoknya biar dia paham deh.. Dia sih cuek-cuek aja.. tapi dengerin :)
Sampe di PHC malah dia yang masuk duluan ke IGD.. Langsung aku daftarin.. Lalu menunggu..
Ada beberapa pasien.. Yang lagi ngantri di klinik bedahnya.. Satu lagi khitan juga.. Anaknya sudah cukup besar.. Mungkin se Rizal agak tua dikit.. Dan gak nangis.. Ah oke tuh. Habis itu ada bayi 19bulan fimosis..
Menangisnya keras sekali hiks..hiks.. jadi stress juga dengernya.. Belum lagi ada anak cewek yang luka di wajah lalu dibuka jahitannya.. Nangisnya keras banget.. hiks..hiks.. bikin stress lagi.. Rizal jadinya juga agak mengkeret..
Finally.. Eng..ing..eng... Gilirannya Rizal datang...
Naik kasur aja sudah heboh.. Berusaha nego sana nego sini.. ha..ha.. Dia bilang.. gak pake gunting ya.. Akhirnya mantrinya sampe buang guntingnya ke lantai ha..ha.. Tapi ya Rizalnya masih tahu kalo ada gunting yang lain.. wis..wis.. Capek deh..
Kalau biasanya untuk khitan butuh 2 orang aja.. Ini sampe 8 orang untuk megangi.
Waktu dibius sudah teriak-teriak.. Habis itu waktu dieksekusi mendatangkan banyak orang. Sebetulnya kan kalau sudah dibius nggak terasa.. Tapi karena Rizal sebetulnya takut, jadinya masih teriak aja.. Ah.. anakku..anakku..
Yang lucu, setelah proses selesai, masih kondisi menangis dia salami semua orang sambil minta maaf.. Lucu tapi juga mengharukan he..he..
Biaya sunat ini Rp. 430 ribu-an.
Perawatan setelah sunat cuma diberi betadine aja sehari 3x gitu.. Terus setelah pipis pas tabungnya dibilas terus diberi baby oil, biar gak lengket gitu..
Setelah 5 hari smart klamp nya dilepas. Sebelumnya di rumah disuruh berendam selama 1 jam supaya gampang dilepas. Waktu ngelepasnya juga heboh. Padahal kan sudah gak sakit wong tinggal ngelepas.. Masih dikasih kapas aja sudah teriak-teriak menghebohkan IGD. Sampe pasien lain pada ketawa-ketawa..
Setelah 5 hari smart klamp nya dilepas. Sebelumnya di rumah disuruh berendam selama 1 jam supaya gampang dilepas. Waktu ngelepasnya juga heboh. Padahal kan sudah gak sakit wong tinggal ngelepas.. Masih dikasih kapas aja sudah teriak-teriak menghebohkan IGD. Sampe pasien lain pada ketawa-ketawa..
Yang lucu lagi.. Seperti sebelumnya, waktu sudah selesai dia minta maaf ke semua orang.. Terus bilang "Selamat tahun baru Imlek ya.. Gong Xi Fat Choi".. Ha..ha... semua ketawa deh..
Berikut soal sunat smart klamp yang saya ambil dari brosur di RS PHC Surabaya :Apakah Smart Klamp itu :
SmartKlamp adalah alat khitan sekali pakai (disposable) berteknologi tinggi, yang didesain untuk menghasilkan khitanan yang lebih aman, cepat dan canggih.
Keunggulan khitan dengan teknik SmartKlamp?
- Khitan tanpa pendarahan, tanpa jahitan sehingga mengurangi risiko penularan penyakit AIDS / Hepatitis (catatan dari saya : sebetulnya ada sih pendarahan.. tapi dikit)
- Pelaksanaan khitan membutuhkan waktu yang sangat cepat 5-10 menit
- Anak bisa langsung dibawa pulang
- Anak dapat langsung beraktifitas seperti biasa (bermain, sekolah,mandi dll) -> Rizal habis sunat langsung ke mall :)
- Alat sangat ringan karena terbuat dari plastik
- Dapat buang air kecil secara biasa (melalui tabung)
- Tersedia dalam berbagai ukuran sehingga dapat digunakan pada usia bayi, anak sampai dewasa
Tahap Persiapan :
Sebelum khitan, seluruh bagian penis dibersihkan sambil menarik foreskin (kulup atau kulit muka) ke belakang, kadang-kadang foreskin lengket pada penis dan tertutup (fimosis) sehingga dokter harus melonggarkannya. Dalam beberapa kasus foreskin sangat sempit, dokter akan melabarkannya dengan klem. Anak dilakukan pembiusan lokal dengan injeksi, sehingga prosedur dilakukan tanpa rasa sakit. Injeksi dilakukan pada pangkal penis di bawah kulit. Efek bius berkisar antara setengah hingga satu jam.
Tahap Pengukuran :
Setiap penis memiliki ukuran yang berbeda-beda, sehingga harus diukur untukmemastikan ukuran SmartKlamp yang akan digunakan. Sebuah kartu dengan beberapa lubang (size -o - meter) digunakan untuk mengukur diameter penis, kemudian ukuran yang sesuai digunakan untuk memilih SmartKlamp yang akan dipakai.
Tahap Pengkhitanan :
Sesaat setelah obat bius bekerja,dokterakan kembalimenarik ke belakang foreskin dan meletakkan tabung di atas kepala penis. Dokterkemudianakanmenarik ke dalamforeskin tepat di atas tabung, dan ketika posisinya telah pas maka ring klem kemudian dikunci.
Foreskin kemudian dipotong dengan pisau bedah (scalpel), persis di atas ring klem,dan khitanan selesai, tidak dibutuhkan jahitan dan perban. SmartKlamp akan tetap pada penis hingga luka sembuh yaitu sekitar 5 hari. Setelah 5hari SmartKlamp dapat dilepas oleh dokter.
Sumber: Bundarini
Salon Khusus Pria
Alm. Raden Ngabehi Notopandoyo pendiri Bong Supit BOGEM. Awal bulan lalu saya berkesempatan mengantarkan keponokan khitan. Bagi anda yang dulu juga di mutilasi khitan di Bogem mungkin masih sempat yang merasakan eksekusi khitan oleh pak Noto sendiri, tapi kini beliau sudah tiada maka eksekutornya beralih ketangan para karyawan atau pun keluarganya. Saya sendiri dulu tidak sempat mencicipi tajamnya alat khitan yang di BOGEM (bukan berarti saya mau ngicipi khitan yang kedua kali, hehehehe…)
Sebelum dieksekusi, terlebih dulu melakukan pendaftaran. Jangan takut tersesat karena disana sudah tersedia papan petunjuknya,
Apa yang perlu dibawa waktu eksekusi? Yang jelas adalah anak yang mau disunat jangan sampai ketuker sama bapaknya. Kemudian sarung, dipakai waktu eksekusi dan sesudahnya. Persiapan yang lain adalah kain mori nah yang ini saya kurang tau untuk apa. Ada yang tau? Jika anda lupa tidak membawa semuanya (kecuali anak yang mau disunat lho ya) sudah ada yang menyediakan tetapi harus merogoh kocek anda pribadi. Dan yang terakhir jangan lupa melakukan pembayaran tunai karena disana tidak menerima pembayaran secara elektronik apalagi sistem KREDIT. Harganya variatif, kelas ekonomi Rp. 400.000,- (harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan) bedanya dimana si? Bedanya cuma di kasurnya aja kok, mau yang single bedroom atau double, untuk cara eksekusi tenang saja tidak perlu takut karena tidak ada perbedaan proses eksekusi berdasarkan kelas kamar.
Bagi anda yang ingin mencoba lagi ketajaman peralatan sunat di Bogem tentu saja bagi putra, saudara atau tetangga karena saya yakin bagi kaum lelaki cukup sekali saja karena memang menyakitkan(kalau ke enakan biasanya minta tambah/di ulang lagi) berikut alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi, silahkan dicatat sendiri-sendiri, bagi yang tidak bawa alat tulis bisa pinjam teman sebangkunya.
Bagiamana, tertarik untuk mencoba? Sesampai di rumah, jangan kaget kalau ada yang memberikan ucapan “Selamaat menempuh hidup bentuk baru” karena memang ini terjadi pada keponakan saya *ya jelas aja, yang ngasi ucapan yang nulis tulisan ini*
Sumber: Annots
Sebelum dieksekusi, terlebih dulu melakukan pendaftaran. Jangan takut tersesat karena disana sudah tersedia papan petunjuknya,
Apa yang perlu dibawa waktu eksekusi? Yang jelas adalah anak yang mau disunat jangan sampai ketuker sama bapaknya. Kemudian sarung, dipakai waktu eksekusi dan sesudahnya. Persiapan yang lain adalah kain mori nah yang ini saya kurang tau untuk apa. Ada yang tau? Jika anda lupa tidak membawa semuanya (kecuali anak yang mau disunat lho ya) sudah ada yang menyediakan tetapi harus merogoh kocek anda pribadi. Dan yang terakhir jangan lupa melakukan pembayaran tunai karena disana tidak menerima pembayaran secara elektronik apalagi sistem KREDIT. Harganya variatif, kelas ekonomi Rp. 400.000,- (harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan) bedanya dimana si? Bedanya cuma di kasurnya aja kok, mau yang single bedroom atau double, untuk cara eksekusi tenang saja tidak perlu takut karena tidak ada perbedaan proses eksekusi berdasarkan kelas kamar.
Bagi anda yang ingin mencoba lagi ketajaman peralatan sunat di Bogem tentu saja bagi putra, saudara atau tetangga karena saya yakin bagi kaum lelaki cukup sekali saja karena memang menyakitkan(kalau ke enakan biasanya minta tambah/di ulang lagi) berikut alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi, silahkan dicatat sendiri-sendiri, bagi yang tidak bawa alat tulis bisa pinjam teman sebangkunya.
Bagiamana, tertarik untuk mencoba? Sesampai di rumah, jangan kaget kalau ada yang memberikan ucapan “Selamaat menempuh hidup bentuk baru” karena memang ini terjadi pada keponakan saya *ya jelas aja, yang ngasi ucapan yang nulis tulisan ini*
Sumber: Annots
Sunatan
Wah ternyata ngurusin anak yg baru disunat itu lumayan repot jg lho…hi…hi…
Pas liburan musim panas yg lalu kita sekeluarga plg ke Jakarta.Sebelumnya aku n Mas Deddy punya rencana mau nyunatin Gio,mumpung sekalian liburan plg ke Jakarta,tp yah itu jg kalo anaknya mau.Ternyata waktu kita tanya,eh dia mau,ya udah dech akhirnya kita mulai mencari info seputar persunatan…weeddeehh istilahnya…
Kata para senior yg udah berpengalaman dlm menyunatkan anak lebih baik ke dokter spesialis bedah anak aja,pake laser lebih aman katanya dan si anak bisa dibius lokal atau kalo mau dibius total sekalian supaya gak ngerasain sakit selama proses.Trus sakitnya jg cuma 3 hari trus dah bisa pake celana.Wah hebat jg ya 3 hari dah sembuh,pikir kita.
Eh trus ada yg blg kalo pake laser nanti kalo anaknya dah gede bentuk "ntunya" gak bagus,waduh…bisa berabe dong…hi…hi…hi…jd ktnya mending secara yg biasa aja alias secara pake gunting dan dijahit,adoooh…ngilu bo…
Wah bingung jg nich mau dilaser atau yg biasa aja,eh ditengah kebingungan kita datang lg satu saran dr my sister in law,dia blg ada lg satu cara yg bisa dipertimbangkan oleh kita,dussss…tambah bingung …cara apa lagi nich,ternyata ktnya ada sunat yg namanya SUNAT BOGEM,nah lho…sunat gaya apa nich?
Dulu sunat bogem ini hanya ada di kota Jogyakarta,jd sunat ini kira2 prakteknya secara tradisional,cara sunatnya bagaimana aku jg gak paham.Nah skrg ternyata sudah ada cabangnya di Jakarta,wah apa sich hebatnya sunat bogem ini?
Denger ceritanya setelah disunat ala bogem si anak lsg bisa pake celana,wah hebat betul.Nah akhirnya krn kita mau yg instan alias yg cepet sembuhnya pilihan kita jatuh kpd sunat bogem.Krn kita pikir biar Gio cepet sembuhnya dan kita bisa menikmati liburan di Jakarta.So kita buat appointment by phone dan tgl 16 Juni 2006 lepas Maghrib Gio jadi disunat.Kita gak boleh nemenin si anak di dalam,wah saat itu emosiku sbg ibu gak karuan dech,mau nangis malu,jantungku deg2an terus,wah kacaulah perasaanku ngebayangin my little boy lg dijagal ihik…ihik…aku baca2 doa aja,but not so long…setelah 10 menit-an akhirnya Gio keluar dr kmr operasi dg wajah ceria tanpa menangis atau takut.Wah hebat banget dan prosesnya itu lho cepet banget.Alhamdulilah akhirnya anakku dah disunat dg selamat.Sebenarnya Gio udah boleh pake celana tp krn kitanya yg gak tega yah akhirnya pake sarung aja dech.Trus kita pulang ke rumah dan sebelumnya kita mampir ke apotik utk beli perlengkapan dan obat utk merawat luka setelah sunat.Malam itu Gio bisa tidur nyenyak tanpa kesakitan krn sebelumnya udah dikasih obat anti sakit dan antibiotik.Besok paginya Gio bangun dan blm bisa mandi krn perbannya takut basah,jd cuma diseka aja,trus dah bisa pake celana.
Wah biasanya habis sunatan kan dipestain ya,tp kita pikir gak perlulah pesta2,kita cuma ngumpul keluarga besar aja,baca doa,mengucapkan puji syukur atas segala rahmatNya sehingga Gio bisa disunat dg selamat trus potong nasi tumpeng… eh Gio jg pingin tiup lilin kyk ulang tahun,ya udah diturutin dech.
Hari ke-3 perban hrs diganti,nah mulailah kerewelan terjadi.Setelah perban dibuka Gio baru ngerasa sakit dan dia kaget "ntunya"kok berubah,dia blg,"Bunda…kok ti….tnya Gio putus."…ha…ha…ada2 aja,yah akhirnya setelah dikasih penjelasan si Ayah dia br ngerti.Wah emang wajar sich kalo dia kesakitan wong bengkak gitu.Kena air dia teriak,kesenggol handuk jerit2 sambil nangis,dikasih obat trus diperban sambil nangis kenceng,waduh stress nich si Bunda.Trus dia gak mau pake celana lg,maunya telanjang aja biar gak sakit ktnya.Ya udah dia tiduran aja di kamar gak keluar2,sekali2 aja kalo dah bosen dia keluar tp minta dipakein sarung,hi…hi…udah punya rasa malu.Tapi tiap saat dia teriak manggil aku,yg minta inilah itulah atau kadang yg cuma pingin ditemeninlah,duh…sementara si Kyla jg yg gak mau aku tinggal bentar,ribet benerrrrrr…
Yah semenjak hari ke-3 itu dan hari2 berikutnya aku bener2 dibuat repot sm anak2,terlebih Gio yg emang lg butuh perhatian extra.Hari2ku di Jakarta kmrn dimulai dg mandiin dan gantiin perban lukanya Gio dg jeritan dan tangisan.Sepanjang hari denger rengekan dia yg mengeluh sakit,belum lg kalo dia mau pipis repot bgt,yg takut kesenggol-lah,takut kena pipis sakit-lah,wah…trus dia apa2 maunya sm Bunda,gak mau kalo dibantuin Ayahnya,ampun dech…
Ha…ha…ha… ternyata sunat mau pake cara apa juga tetep aja gak bisa sembuh hanya dlm bbrp hari.Tetep aja penyembuhannya harus lebih dr seminggu.
Skrg Gio dah sembuh total,wah dia bangga bgt cerita ke orang2 kalo dia udah berani disunat.Hi…hi…mas Gio udah gede…
Sumber: Deasyky
Pas liburan musim panas yg lalu kita sekeluarga plg ke Jakarta.Sebelumnya aku n Mas Deddy punya rencana mau nyunatin Gio,mumpung sekalian liburan plg ke Jakarta,tp yah itu jg kalo anaknya mau.Ternyata waktu kita tanya,eh dia mau,ya udah dech akhirnya kita mulai mencari info seputar persunatan…weeddeehh istilahnya…
Kata para senior yg udah berpengalaman dlm menyunatkan anak lebih baik ke dokter spesialis bedah anak aja,pake laser lebih aman katanya dan si anak bisa dibius lokal atau kalo mau dibius total sekalian supaya gak ngerasain sakit selama proses.Trus sakitnya jg cuma 3 hari trus dah bisa pake celana.Wah hebat jg ya 3 hari dah sembuh,pikir kita.
Eh trus ada yg blg kalo pake laser nanti kalo anaknya dah gede bentuk "ntunya" gak bagus,waduh…bisa berabe dong…hi…hi…hi…jd ktnya mending secara yg biasa aja alias secara pake gunting dan dijahit,adoooh…ngilu bo…
Wah bingung jg nich mau dilaser atau yg biasa aja,eh ditengah kebingungan kita datang lg satu saran dr my sister in law,dia blg ada lg satu cara yg bisa dipertimbangkan oleh kita,dussss…tambah bingung …cara apa lagi nich,ternyata ktnya ada sunat yg namanya SUNAT BOGEM,nah lho…sunat gaya apa nich?
Dulu sunat bogem ini hanya ada di kota Jogyakarta,jd sunat ini kira2 prakteknya secara tradisional,cara sunatnya bagaimana aku jg gak paham.Nah skrg ternyata sudah ada cabangnya di Jakarta,wah apa sich hebatnya sunat bogem ini?
Denger ceritanya setelah disunat ala bogem si anak lsg bisa pake celana,wah hebat betul.Nah akhirnya krn kita mau yg instan alias yg cepet sembuhnya pilihan kita jatuh kpd sunat bogem.Krn kita pikir biar Gio cepet sembuhnya dan kita bisa menikmati liburan di Jakarta.So kita buat appointment by phone dan tgl 16 Juni 2006 lepas Maghrib Gio jadi disunat.Kita gak boleh nemenin si anak di dalam,wah saat itu emosiku sbg ibu gak karuan dech,mau nangis malu,jantungku deg2an terus,wah kacaulah perasaanku ngebayangin my little boy lg dijagal ihik…ihik…aku baca2 doa aja,but not so long…setelah 10 menit-an akhirnya Gio keluar dr kmr operasi dg wajah ceria tanpa menangis atau takut.Wah hebat banget dan prosesnya itu lho cepet banget.Alhamdulilah akhirnya anakku dah disunat dg selamat.Sebenarnya Gio udah boleh pake celana tp krn kitanya yg gak tega yah akhirnya pake sarung aja dech.Trus kita pulang ke rumah dan sebelumnya kita mampir ke apotik utk beli perlengkapan dan obat utk merawat luka setelah sunat.Malam itu Gio bisa tidur nyenyak tanpa kesakitan krn sebelumnya udah dikasih obat anti sakit dan antibiotik.Besok paginya Gio bangun dan blm bisa mandi krn perbannya takut basah,jd cuma diseka aja,trus dah bisa pake celana.
Wah biasanya habis sunatan kan dipestain ya,tp kita pikir gak perlulah pesta2,kita cuma ngumpul keluarga besar aja,baca doa,mengucapkan puji syukur atas segala rahmatNya sehingga Gio bisa disunat dg selamat trus potong nasi tumpeng… eh Gio jg pingin tiup lilin kyk ulang tahun,ya udah diturutin dech.
Hari ke-3 perban hrs diganti,nah mulailah kerewelan terjadi.Setelah perban dibuka Gio baru ngerasa sakit dan dia kaget "ntunya"kok berubah,dia blg,"Bunda…kok ti….tnya Gio putus."…ha…ha…ada2 aja,yah akhirnya setelah dikasih penjelasan si Ayah dia br ngerti.Wah emang wajar sich kalo dia kesakitan wong bengkak gitu.Kena air dia teriak,kesenggol handuk jerit2 sambil nangis,dikasih obat trus diperban sambil nangis kenceng,waduh stress nich si Bunda.Trus dia gak mau pake celana lg,maunya telanjang aja biar gak sakit ktnya.Ya udah dia tiduran aja di kamar gak keluar2,sekali2 aja kalo dah bosen dia keluar tp minta dipakein sarung,hi…hi…udah punya rasa malu.Tapi tiap saat dia teriak manggil aku,yg minta inilah itulah atau kadang yg cuma pingin ditemeninlah,duh…sementara si Kyla jg yg gak mau aku tinggal bentar,ribet benerrrrrr…
Yah semenjak hari ke-3 itu dan hari2 berikutnya aku bener2 dibuat repot sm anak2,terlebih Gio yg emang lg butuh perhatian extra.Hari2ku di Jakarta kmrn dimulai dg mandiin dan gantiin perban lukanya Gio dg jeritan dan tangisan.Sepanjang hari denger rengekan dia yg mengeluh sakit,belum lg kalo dia mau pipis repot bgt,yg takut kesenggol-lah,takut kena pipis sakit-lah,wah…trus dia apa2 maunya sm Bunda,gak mau kalo dibantuin Ayahnya,ampun dech…
Ha…ha…ha… ternyata sunat mau pake cara apa juga tetep aja gak bisa sembuh hanya dlm bbrp hari.Tetep aja penyembuhannya harus lebih dr seminggu.
Skrg Gio dah sembuh total,wah dia bangga bgt cerita ke orang2 kalo dia udah berani disunat.Hi…hi…mas Gio udah gede…
Sumber: Deasyky
Mengkhitan Pertama Kali
Kala itu, aku sedang termangu, menatap dinding-dinding putih yang bisu. Buku yang sejak lama kubaca, tak satu pun mau menempel di kepalaku. Pasien sedang sepi. Tanggal tua barangkali. Hmm... beginilah nasib dokter baru, yang bekerja di klinik tak menentu. Kadang duduk berjam-jam hanya ditemani lalat. Tak jarang pula peluh membanjir saking ramainya kunjungan pasien. Mendadak, kesunyian itu lenyap. Serombongan keluarga tergopoh-gopoh menghampiri ruangan berdinding putih itu, ruang praktek kerjaku.
"Dok, tolong dok, ini anak nangis terus dari tadi. Sakit dok, tolong... kasihan anak ini dok..." ujar perempuan muda didepanku. Matanya menatap pilu bocah yang digendong oleh lelaki disebelahnya. Logat Jawanya begitu kental, pendatang tampaknya. Air mata mengambang di pelupuk mata perempuan itu. Seperti menahan sakit, yang menjalar juga ke relung dadanya. Pasti ibunya, pikirku.
"Iya dok, itu kasihan tuh anaknya dok..." ujar salah seorang keluarga pengantar.
"Anaknya kenapa bu, sini-sini tidurin disini bu?" sahutku tenang, sambil meminta perempuan itu membawa anaknya ke ranjang pemeriksaan. Satu tahun bekerja di klinik setiap pagi dan sore cukup membuatku mampu menghadapi situasi semacam ini.
"Ealah dok..dok... yang namanya lagi sial ya begini ini dok. Tadi itu habis pipis sendiri, lagi pake celana, koq tititnya malah kejepit resleting dok... gimana ini dok... Mbok ya tolong dilepas dok, kasian nangis terus kayak gini ini dok..."
"Wah iya pasti khawatir ya bu kalau anaknya nangis terus kayak gini. Coba...sini...sini... dilihat dulu sayang yuk..." Aku menghampiri bocah lelaki itu. Tangisnya semakin keras. Tangis karena takut dan nyeri.
"Takut ya sayang ya, sakit juga ya... dilihat sebentar tititnya ya, nggak diapa-apain koq cuma dilihat..." aku tersenyum sambil berusaha menatap mata bening bocah berusia 5 tahun itu.
Airmatanya tak juga berhenti menetes, namun tidak sederas sebelumnya. Aku melihat keadaan penis anak itu, belum disunat rupanya. Potongan resleting celana tampak menjepit bagian ujung penisnya. Jepitannya begitu kuat. Tak bisa tidak, sebagian kulit penisnya harus digunting untuk melepaskannya. Menggunting kulit berarti harus melakukan anastesi. Kenapa tak disunat saja sekalian. Toh tindakan dan resikonya sama saja dengan disunat. Kesimpulan itulah yang akhirnya muncul di kepalaku.
Deg. Jantungku mulai berdegup lebih kencang. Sunat? Sanggupkah aku melakukannya seorang diri ? Atau haruskah aku merujuknya? Aku memang sudah beberapa kali mengkhitan anak-anak. Tapi aku selalu dibantu oleh dokter seniorku. Aku belum pernah melakukannya seorang diri, tanpa asisten pula. Di klinik ini hanya ada Yono, yang membantu bagian pendaftaran dan masalah obat-obatan. Hmm, kebimbangan menyergapku.
Kalau aku gagal bagaimana? Apa kata dunia? Jangan-jangan malah dituntut. Sekarang kan sedang jaman tuntut-menuntut. Belum lagi ingatan tentang kisah-kisah seniorku yang bernasib sial. Kisah senior yang diburu keluarga pasien lantaran pasiennya meninggal tak lama setelah disuntik. Cerita tentang kakak kelasku yang pasiennya mendadak tak sadar sehabis disuntik. Beragam kisah-kisah sial lainnya mendadak bermunculan di benakku. Dadaku menjadi sesak rasanya. Ah, tapi mereka kan hanya sedang sial. Kalau semua sesuai prosedur, apa yang mau dituntut? . Toh, aku sudah pernah melakukannya. Ya, tapi masalahnya, dulu selalu ada dokter senior yang membantuku dan sekaligus bertanggungjawab bila terjadi sesuatu. Sekarang, aku harus bertindak sendiri, aku pula yang harus menanggung resiko kalau terjadi apa-apa. Wuaduh...bingung...bingung... bagaimana ya?
Tapi, bukankah aku harus segera mengambil keputusan?. Oke... aku harus mempertimbangkannya masak-masak dalam hitungan detik. Kalau aku merujuk bocah ini ketempat lain, aku membuang kesempatan berharga untuk belajar mandiri. Belum tentu aku mendapatkan peluang seperti ini dilain waktu. Apakah aku hendak selalu bergantung pada dokter lain? Alasan selanjutnya, kasihan keluarga ini kalau pulang dengan tangan hampa. Malah mereka harus repot membayar uang konsultasi di tempatku dan membayar lagi di tempat rujukan nanti. Belum lagi masalah waktu, bocah itu sudah menangis sedari tadi. Ah, sebetulnya masalahnya kan cuma satu, aku belum percaya diri untuk melakukannya seorang diri, itu saja. Mmm... bagaimana ya? "Ayo Nes... kamu pasti bisa...there is always the first time Nes...Bismillah aja deh" hatiku berbisik untuk meyakinkan diriku sendiri.
"Ibu, jepiitan resletingnya kuat sekali bu, jadi tititnya harus digunting. Harus dibius dulu daerah sekitar tititnya sebelum digunting. Ibu muslim kan?" Kata-kata itulah yang akhirnya terucap dari mulutku.
"Iya dok, muslim"
"Menurut saya, karena tindakan dan resikonya sama aja dengan disunat, lebih baik sekalian disunat saja bu anaknya. Sekalian sakit bu, daripada nanti anaknya harus ngalami kayak gini lagi. Gimana menurut ibu?"
"Hah disunat dok? Lho, dokter perempuan memangnya bisa nyunat? Lagipula saya belum ada persiapan dok kalau disunat. Orang Jawa kalau sunat kan harus pake acara rame-rame dok."
"He he, perempuan atau laki-laki kan sama-sama belajarnya waktu kuliah dulu bu" aku geli melihat si ibu yang keheranan dan menjadi sedikit ragu.
"Tapi keputusan tetap ibu yang ambil ya bu, saya kan hanya memberi saran"
"Kalau gitu saya telpon suami saya dulu ya bu dokter"
"Lho itu tadi bukan suaminya ya?"
"Bukan bu dokter, itu adek saya. Suami saya lagi kerja."
Aku menunggu perempuan itu mengambil keputusan. Hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil. "Ya Allah, ini bukan kondisi darurat, anak itu pun baik-baik saja. Aku hanya harus mengkhitan seorang diri pertama kali. Kenapa aku deg-deg an ya Allah. Aku tak tahu, kenapa Kau hadirkan bocah ini kehadapanku. Kalau ini memang jalan dariMu agar aku belajar, mudahkanlah semuanya ya Allah, berilah aku ketenangan." doa itulah yang akhirnya menenangkan gelisahku.
"Bu dokter, sunat aja deh bu. Kata suami saya acara rame-rame ya dibuat aja besok-besok, kasian anaknya bu. Tapi anak saya nggak apa-apa kan bu kalau disunat?"
"Iya bu, Insya Allah nggak apa-apa. Sunat itu cuma tindakan kecil koq bu, setengah jam juga beres. Tolong aja anaknya dipegang sama om nya nanti ya bu."
Dengan tak henti-hentinya berdoa memohon ketenangan dan kelancaran, aku memulai proses mengkhitan pertama kali ini. Tanpa ada asisten ataupun penanggung jawab bila terjadi sesuatu.
Tanganku sedikit gemetar ketika jarum suntik berisi Lidocain menembus kulit diatas tulang kemaluan anak itu. Tentu saja dia menangis keras ketika jarum suntik menembus kulitnya. Untung lah anak itu termasuk ‘anak mudah’ tidak mengamuk dan menendang-nendangkan kakinya. Semua itu betul-betul memudahkanku. Lantas, aku melanjutkan proses anastesi di sekitar penisnya. Ah, berhasil juga rupanya. Tak berapa lama, tangisan anak itu berubah, bukan lagi tangis kesakitan. Hanya rengekan kelelahan dan takut.
Perlahan tapi pasti, ketenangan mulai merasuki jiwaku. Pelan-pelan kubersihkan smegma (sekret dari kelenjar sebasea, berwarna putih seperti keju) yang menempel di sekeliling pangkal penis. Dua buah klem aku jepitkan di ujung kemaluan anak lelaki itu. Akhirnya, Bismillah... aku memotong ujung kulit penis anak itu. Aku semakin merasa ringan. Pekerjaanku hampir usai, tinggal mengatasi perdarahan dan menjahit kulit saja.
“Alhamdulillah... sudah selesai. Tiga hari lagi kontrol ya bu...” Hmh... terucap juga kalimat itu akhirnya dari bibirku. Puas rasanya, lega, dan bersyukur tentu saja. Semua berjalan lancar. Dan yang teramat penting bagiku, aku telah memilih, aku juga telah berhasil mengalahkan segala rasa khawatir yang berkeliaran dalam hatiku. Hidup memang terdiri dari serangkaian pilihan. Kemampuan untuk memilih secara sadar dan bertanggungjawab adalah sebuah keahlian yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Andai saja aku memilih cara termudah- merujuk anak ini tadi, tentu aku akan kehilangan pengalaman berharga yang telah dihadirkan Allah kepadaku. Sejak saat ini, aku semakin percaya diri untuk mengkhitan. Dan tentu saja, kesadaran itu semakin merasuki relung jiwaku, kesadaran bahwa, hidup adalah sebuah pilihan!
Sumber: Agnes Tri Harjaningrum
"Dok, tolong dok, ini anak nangis terus dari tadi. Sakit dok, tolong... kasihan anak ini dok..." ujar perempuan muda didepanku. Matanya menatap pilu bocah yang digendong oleh lelaki disebelahnya. Logat Jawanya begitu kental, pendatang tampaknya. Air mata mengambang di pelupuk mata perempuan itu. Seperti menahan sakit, yang menjalar juga ke relung dadanya. Pasti ibunya, pikirku.
"Iya dok, itu kasihan tuh anaknya dok..." ujar salah seorang keluarga pengantar.
"Anaknya kenapa bu, sini-sini tidurin disini bu?" sahutku tenang, sambil meminta perempuan itu membawa anaknya ke ranjang pemeriksaan. Satu tahun bekerja di klinik setiap pagi dan sore cukup membuatku mampu menghadapi situasi semacam ini.
"Ealah dok..dok... yang namanya lagi sial ya begini ini dok. Tadi itu habis pipis sendiri, lagi pake celana, koq tititnya malah kejepit resleting dok... gimana ini dok... Mbok ya tolong dilepas dok, kasian nangis terus kayak gini ini dok..."
"Wah iya pasti khawatir ya bu kalau anaknya nangis terus kayak gini. Coba...sini...sini... dilihat dulu sayang yuk..." Aku menghampiri bocah lelaki itu. Tangisnya semakin keras. Tangis karena takut dan nyeri.
"Takut ya sayang ya, sakit juga ya... dilihat sebentar tititnya ya, nggak diapa-apain koq cuma dilihat..." aku tersenyum sambil berusaha menatap mata bening bocah berusia 5 tahun itu.
Airmatanya tak juga berhenti menetes, namun tidak sederas sebelumnya. Aku melihat keadaan penis anak itu, belum disunat rupanya. Potongan resleting celana tampak menjepit bagian ujung penisnya. Jepitannya begitu kuat. Tak bisa tidak, sebagian kulit penisnya harus digunting untuk melepaskannya. Menggunting kulit berarti harus melakukan anastesi. Kenapa tak disunat saja sekalian. Toh tindakan dan resikonya sama saja dengan disunat. Kesimpulan itulah yang akhirnya muncul di kepalaku.
Deg. Jantungku mulai berdegup lebih kencang. Sunat? Sanggupkah aku melakukannya seorang diri ? Atau haruskah aku merujuknya? Aku memang sudah beberapa kali mengkhitan anak-anak. Tapi aku selalu dibantu oleh dokter seniorku. Aku belum pernah melakukannya seorang diri, tanpa asisten pula. Di klinik ini hanya ada Yono, yang membantu bagian pendaftaran dan masalah obat-obatan. Hmm, kebimbangan menyergapku.
Kalau aku gagal bagaimana? Apa kata dunia? Jangan-jangan malah dituntut. Sekarang kan sedang jaman tuntut-menuntut. Belum lagi ingatan tentang kisah-kisah seniorku yang bernasib sial. Kisah senior yang diburu keluarga pasien lantaran pasiennya meninggal tak lama setelah disuntik. Cerita tentang kakak kelasku yang pasiennya mendadak tak sadar sehabis disuntik. Beragam kisah-kisah sial lainnya mendadak bermunculan di benakku. Dadaku menjadi sesak rasanya. Ah, tapi mereka kan hanya sedang sial. Kalau semua sesuai prosedur, apa yang mau dituntut? . Toh, aku sudah pernah melakukannya. Ya, tapi masalahnya, dulu selalu ada dokter senior yang membantuku dan sekaligus bertanggungjawab bila terjadi sesuatu. Sekarang, aku harus bertindak sendiri, aku pula yang harus menanggung resiko kalau terjadi apa-apa. Wuaduh...bingung...bingung... bagaimana ya?
Tapi, bukankah aku harus segera mengambil keputusan?. Oke... aku harus mempertimbangkannya masak-masak dalam hitungan detik. Kalau aku merujuk bocah ini ketempat lain, aku membuang kesempatan berharga untuk belajar mandiri. Belum tentu aku mendapatkan peluang seperti ini dilain waktu. Apakah aku hendak selalu bergantung pada dokter lain? Alasan selanjutnya, kasihan keluarga ini kalau pulang dengan tangan hampa. Malah mereka harus repot membayar uang konsultasi di tempatku dan membayar lagi di tempat rujukan nanti. Belum lagi masalah waktu, bocah itu sudah menangis sedari tadi. Ah, sebetulnya masalahnya kan cuma satu, aku belum percaya diri untuk melakukannya seorang diri, itu saja. Mmm... bagaimana ya? "Ayo Nes... kamu pasti bisa...there is always the first time Nes...Bismillah aja deh" hatiku berbisik untuk meyakinkan diriku sendiri.
"Ibu, jepiitan resletingnya kuat sekali bu, jadi tititnya harus digunting. Harus dibius dulu daerah sekitar tititnya sebelum digunting. Ibu muslim kan?" Kata-kata itulah yang akhirnya terucap dari mulutku.
"Iya dok, muslim"
"Menurut saya, karena tindakan dan resikonya sama aja dengan disunat, lebih baik sekalian disunat saja bu anaknya. Sekalian sakit bu, daripada nanti anaknya harus ngalami kayak gini lagi. Gimana menurut ibu?"
"Hah disunat dok? Lho, dokter perempuan memangnya bisa nyunat? Lagipula saya belum ada persiapan dok kalau disunat. Orang Jawa kalau sunat kan harus pake acara rame-rame dok."
"He he, perempuan atau laki-laki kan sama-sama belajarnya waktu kuliah dulu bu" aku geli melihat si ibu yang keheranan dan menjadi sedikit ragu.
"Tapi keputusan tetap ibu yang ambil ya bu, saya kan hanya memberi saran"
"Kalau gitu saya telpon suami saya dulu ya bu dokter"
"Lho itu tadi bukan suaminya ya?"
"Bukan bu dokter, itu adek saya. Suami saya lagi kerja."
Aku menunggu perempuan itu mengambil keputusan. Hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil. "Ya Allah, ini bukan kondisi darurat, anak itu pun baik-baik saja. Aku hanya harus mengkhitan seorang diri pertama kali. Kenapa aku deg-deg an ya Allah. Aku tak tahu, kenapa Kau hadirkan bocah ini kehadapanku. Kalau ini memang jalan dariMu agar aku belajar, mudahkanlah semuanya ya Allah, berilah aku ketenangan." doa itulah yang akhirnya menenangkan gelisahku.
"Bu dokter, sunat aja deh bu. Kata suami saya acara rame-rame ya dibuat aja besok-besok, kasian anaknya bu. Tapi anak saya nggak apa-apa kan bu kalau disunat?"
"Iya bu, Insya Allah nggak apa-apa. Sunat itu cuma tindakan kecil koq bu, setengah jam juga beres. Tolong aja anaknya dipegang sama om nya nanti ya bu."
Dengan tak henti-hentinya berdoa memohon ketenangan dan kelancaran, aku memulai proses mengkhitan pertama kali ini. Tanpa ada asisten ataupun penanggung jawab bila terjadi sesuatu.
Tanganku sedikit gemetar ketika jarum suntik berisi Lidocain menembus kulit diatas tulang kemaluan anak itu. Tentu saja dia menangis keras ketika jarum suntik menembus kulitnya. Untung lah anak itu termasuk ‘anak mudah’ tidak mengamuk dan menendang-nendangkan kakinya. Semua itu betul-betul memudahkanku. Lantas, aku melanjutkan proses anastesi di sekitar penisnya. Ah, berhasil juga rupanya. Tak berapa lama, tangisan anak itu berubah, bukan lagi tangis kesakitan. Hanya rengekan kelelahan dan takut.
Perlahan tapi pasti, ketenangan mulai merasuki jiwaku. Pelan-pelan kubersihkan smegma (sekret dari kelenjar sebasea, berwarna putih seperti keju) yang menempel di sekeliling pangkal penis. Dua buah klem aku jepitkan di ujung kemaluan anak lelaki itu. Akhirnya, Bismillah... aku memotong ujung kulit penis anak itu. Aku semakin merasa ringan. Pekerjaanku hampir usai, tinggal mengatasi perdarahan dan menjahit kulit saja.
“Alhamdulillah... sudah selesai. Tiga hari lagi kontrol ya bu...” Hmh... terucap juga kalimat itu akhirnya dari bibirku. Puas rasanya, lega, dan bersyukur tentu saja. Semua berjalan lancar. Dan yang teramat penting bagiku, aku telah memilih, aku juga telah berhasil mengalahkan segala rasa khawatir yang berkeliaran dalam hatiku. Hidup memang terdiri dari serangkaian pilihan. Kemampuan untuk memilih secara sadar dan bertanggungjawab adalah sebuah keahlian yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Andai saja aku memilih cara termudah- merujuk anak ini tadi, tentu aku akan kehilangan pengalaman berharga yang telah dihadirkan Allah kepadaku. Sejak saat ini, aku semakin percaya diri untuk mengkhitan. Dan tentu saja, kesadaran itu semakin merasuki relung jiwaku, kesadaran bahwa, hidup adalah sebuah pilihan!
Sumber: Agnes Tri Harjaningrum
Sunat ala Bogem
PADA sebuah dinding makam di Saqqara, Mesir, jang diduga berasal dari tahun 2400 sebelum Masehi, terdapat lukisan jang menggambarkan seorang anak laki-laki jang berdiri dibelakangnja, sedang seorang pendeta membungkuk didepannja, siap melakukan operasi. Konon operasi djaman purba itu dikenal di Indonesia dan hampir diseluruh dunia sebagai penjunatan atau pengchitanan. Asal-usulnja tidak djelas tapi dalam peladjaran ethnologi sering disebutkan bahwa penjunatan adalah sebagian dari tradisi, diperkuat dalam upatjara jang meresmikan bahwa seorang anak laki-laki dinjatakan sjah sebagai laki-laki dewasa dengan hak dan tanggung djawabnja. Bagi orang Jahudi, tradisi ini merupakan pemenuhan djandji jang terbuhul antara Tuhan dan Abraham, perintah pertama dari Pentatauch jang menjebutkan bahwa setiap anak laki-laki harus disunat. Demikian penting arti upatjara ini hingga Pythagoras jang kesohor itu harus menjerahkan dirinja untuk disunat sebelum ia diidjinkan beladjar dibalik dinding tjandi-tjandi Mesir Purba. Dan demikian penting pula artinja di abad ini, hingga bangsa-bangsa jang tidak punja tradisi sunat seperti Indo-German dan Mongol, sekarang mulai membiasakan operasi ketjil itu pada anak-anak mereka. Ini dilakukan mereka semata-mata demi kesehatan. Reparasi. Mungkin karena alasan jang sama Pak Notopandjojo jang terkenal sebagai Bong Supit atau ahli sunat (supit artinja sunat) dari Jogja, telah meremadjakan tempat prakteknja mendjadi klinik berkapasitas 10 tempat tidur dengan mutu kebersihan rumah sakit kelas satu. Bila dukun sunat ditempat lain baru berpraktek kalau ada panggilan maka djuru sunat jang tidak pernah mendapat pendidikan universitas ini djustru menunggu pasien datang kekliniknja, bagaikan seorang dokter. Walaupun klinik itu terletak diluar kota Jogja, tapi orang datang dari berbagai pendjuru ketempat jang memakai papan nama bertuliskan: Djuru Supit "Bogem". "Kalau dari Djakarta itu sudah biasa", kata Notopandjojo. "Tetapi ada djuga jang dari Lombok, chusus datang untuk reparasi, karena kurang puas dengan hasil pemotongan dari djuru supitnja dulu". Begitu terkenal dan terpertjaja dia, hingga orang dari kalangan rakjat biasa ataupun dari kraton menjerahkan bulat-bulat anak mereka untuk dioperasi oleh tangannja jang dingin itu. Sponsor. Karena tangan dingin itu barangkali, bukan sadja djuru sunat, mungkin dokternja tidak akan mampu bersaingan dengan Pak Noto. Bukan sadja terkenal, tapi djuga ia mendapat berbagai tanda penghargaan untuk prestasinja sebagai djuru supit. Dari bekas Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuchri ia menerima satu piagam jang sangat besar, berdampingan dengan satu lukisan potret dari pelukis Sapto Hudojo jang dititipkan padanja sebagai kenang-kenangan. Koresponden TEMPO di Jogja tidak menjebutkan penghargaan apa sadja jang diterimanja dari kraton, tapi jang djelas bila ia dipanggil oleh mereka, Notopandojo harus repot dengan segala tetek bengek. Karena baik kraton Jogja maupun Solo mengharuskan djuru sunat itu mengenakan surdjan, keris, blangkon sarung dan atribut-atribut tradisional lainnja dalam melaksanakan tugas potong memotong. Tapi anak-anak Jogja, ataupun anak-anak desa sekitarnja, akan datang sendiri keklinik. Biasanja mereka bersepeda dan kalau pemotongan jang dilakukan Bong Supit bisa dianggap selesai, maka dihari jang sama mereka pulang dengan bersepeda pula. Begitu baiknja operasi jang dilakukan pak tua itu, hingga naik sepedapun anak-anak tidak merasa njeri. Keahlian jang ditjapai Pak Noto sekarang adalah wadjar kalau diingat bahwa ia telah buka praktek sedjak tahun 40-an. Anak lurah Tulung jang berputera 9 orang ini, adalah bapak jang simpatik, mengerti berbagai istilah Inggeris dan Belanda, djuga mengikuti perkembangan dunia. Kehidupannja tidak hanja terbatas pada potong-memotong dan balut membalut. Kegiatannja jang terachir mengedjutkan djuga karena ia telah mentjeburkan diri dalam bidang showbiz dan bertindak sebagai sponsor sandiwara radio berbahasa Djawa jang disiarkan melalui studio Jogja. Sponsorship Notopandojo meliput uang sebesar Rp. 10.000, suatu djumlah jang boleh djuga untuk reklame satu klinik dengan papan nama bertuliskan: Djuru Supit "Bogem".
Sumber: Tempointeraktif
Sumber: Tempointeraktif
Subscribe to:
Posts (Atom)















